Sabtu, 25 Mei 2019

PEMBUATAN ELETROLIT TESTER DARI ELEKTRODA BAHAN LIMBAH BERORIENTASI ANGGARAN LABORATORIUM DAN HASIL BELAJAR SISWA



PEMBUATAN ELETROLIT TESTER DARI ELEKTRODA BAHAN LIMBAH BERORIENTASI ANGGARAN LABORATORIUM DAN HASIL BELAJAR SISWA






OLEH :
HENDAH TRI SULYANTARI, S. Pd




KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 JEMBRANA
JEMBRANA – BALI
2018

  
 


PEMBUATAN ELETROLIT TESTER DARI ELEKTRODA BAHAN LIMBAH BERORIENTASI ANGGARAN LABORATORIUM DAN HASIL BELAJAR SISWA


Oleh :
HENDAH TRI SULYANTARI, S. Pd
NIP. 19740112 200112 2 002



ABSTRAK


Jumlah siswa MAN 1 Jembrana yang hampir mencampai 1119 siswa,  ada 37 rombongan belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan belajar, dan 1(satu) laboratorium kimia, tidak akan mencukupi menampung semua kegiatan berbasis eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah  terjadwal karena hampir sebagian besar gurunya memiliki jam mengajar paling sedikit 28 jam dan paling banyak 35 jam, belum ditambah tugas tambahan yang lainnya, sehingga sering kali jadwal mengajarnya hampir bersamaan. Pembelajaran berbasis eksperimen tidak selamanya dilakukan di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun luar ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Idealnya laboratorium harus cukup tersedia alat dan bahan untuk praktikum. Data harga dari internet electrolit tester tertinggi Rp.950.000,-perbuah dan terendah Rp. 38.500,- perbuah, alangkah lebih baik jika kita bisa menghemat anggaran untuk pembelian alat dan bahan dengan membuat sendiri dari bahan limbah dan bahan yang ada dilingkungan sekitarnya. Pembuatan alat uji elektrolit dilakukan untuk menunbuhkan motivasi, inovasi dan peningkatan hasil beljar siswa.
90 %- 98 % siswa senang praktikum di ruang laboratorium dengan alat dan bahan berasal dari ruang laboratorium, 56 % desain A lebih mudah dibuat, 67 % desain B elektrodanya  tidak pernah bersentuhan, 64 % - 76 % desain B lebih cepat mendapat data dan mudah mengamati hasil percobaan, 49,21 %-100 % untuk satu kelompok dan  49,12 %-100 % untuk enam kelompok ada penghematan anggaran laboratorium dari segi pembuatan elektrolit tester dari elektroda bahan bekas dibandingkan dengan elektroda yang dibeli di pabrik. 69,91 %-100 % untuk satu kelompok dan enam kelompok 69,79 %-100 % ada penghematan anggaran laboratorium dari segi pembuatan elektrolit tester dari elektroda bahan bekas dibandingkan dengan elektrolit tester dibeli di pabrik. Kebenaran hasil pengamatan dengan menggunakan elektrolit tester yang dibuat antara 62 %-91 %, Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA = 98,68, Data tes lisan sebelum perbaikan ketuntasan belajar 69,23 %-84,62 %, setelah perbaikan 100 % dan prosentase daya serap siswa 80,7 %-95 %,  setelah perbaikan 87%-94 %,  dan data tes tulis sebelum perbaikan ketuntasan belajar 27 %-65 %, setelah perbaikan 100 % dan prosentase daya serap 64 %-90,6 %, setelah perbaikan 82 %-92,1 %.



I. PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Allah SWT menciptakan alam seisinya dengan sempurna. Pembelajaran Sains akan berjalan lebih baik dan bagus jika menggunakan metode eksperimen, melalui eksperimen anak akan lebih mengetahui apa yang dulunya belum diketahui, sehingga ada keseimbangan antara teori dan praktik. Bereksperimen tidak selamanya dilakukan di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun luar ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Guru dan tenaga laboran harus juga tahu praktik apa saja yang bisa dilakukan di luar ruang laboratorium.
Jumlah  siswa MAN 1 Jembrana  pada tahun pelajaran 2017/2018 mencampai 1122 siswa,  yang terdiri dari 37 rombongan belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan belajar, dan 1(satu) laboratorium kimia, tidak  akan mencukupi atau menampung semua kegiatan berbasis eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah  terjadwal.
Jika alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum sudah habis, rusak, atau memang tidak tersedia di ruang laboratorium, eksperimen tetap bisa dilakukan dengan mengganti alat dan bahan.  Bahan praktikum tidak harus sama persis dengan petunjuk di lembar kerja siswa. Jika bahan tersebut tidak ada diganti dengan bahan lain yang memiliki sifat hampir sama yang ada di ruang labotarium atau bahan di lingkungan sekitarnya.
Harga alat uji elektrolit (electrolit tester) antara Rp. 38.500,-  sampai dengan  Rp.950.000,- perbuah  dan harga  elektroda  antara Rp. 22.000  sampai Rp. 74.250,- (lampiran 1).  Jumlah elektrolit tester satu (1) buah (laporan alat laboratorium) (lampiran 2). Jika menggunakan metode demonstrasi masih bisa dilakukan tetapi untuk metode eksperimen tidak mungkin bisa dilaksanakan. Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA (X-IPA1, X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4 dan X-IPA5) adalah 98, 68 dengan rata-rata bawah 58 % (lampiran 3, 4). Untuk mengoptimalkan hasil belajar lebih baik digunakan metode eksperimen dibandingkan metode demostrasi sehingga bisa mengamati langsung.
Elektrolit tester bisa dibuat sendiri dari bahan dilingkungan sekitar, misal : elektroda diambil dari bahan limbah, sehingga eksperimen tetap berjalan dengan baik, tidak ada kata tidak bisa praktikum dengan alasan tidak punya alat dan bahan. Pembuatan elektrolit tester dikerjakan bersama siswa, dengan model di serahkan ke siswa yang mana paling sukai dan dianggab lebih mudah dikerjakan, tetapi tidak melarang siswa mencoba dua(2) desain yang diberikan yaitu desain A dan B, hal ini dilakukan untuk menunbuhkan motivasi dan inovasi dari siswa. Dari penulisan penelitian ini dibatasi untuk pembuatan alat uji elektrolit. Sedangkan data hasil belajar siswa, data praktikum di luar laboratorium, dan mencari bahan praktikum dari lingkungan sekitar merupakan data tambahan.

1. 2 Rumusan Masalah
            Dari permasalahan di atas maka ditarik suatu rumusan masalah yaitu :
1.      Apakah praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit dilakukan di luar laboratorium dapat dipahami oleh siswa ?
2.      Berapa persen tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan B ?
3.      Apakah pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah  pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit dapat dipahami oleh siswa ?
4.      Bagaimana hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah

1. 3 Tujuan
            Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pemahaman/toleransi siswa praktikum di luar laboratorium
2.      Untuk mengetahui prosentase tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan desain B
3.      Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam pembuatan elektrolit tester
4.      Untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah


1. 4 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan adalah
Desain elektrolit tester B lebih valid dibandingkan desain elektrolit tester A (kelompok kotrol) pada pengamatan percobaan

1. 5 Manfaat Penelitian
            Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
1.      Dapat memanfaatkan lingkungan atau ruang di  luar laboratorium untuk praktikum
2.      Dapat memanfaatkan bahan dari lingkungan sekitar
3.      Sebagai salah satu alternative menanggulangi dampak pencemaran lingkungan dengan mengolah sampah (bahan limbah) sebagai produk (elektrolit tester)
4.      Dapat menghemat anggaran biaya laboratorium
5.      Salah satu alternative memecahkan masalah, jika laboratorium tidak memiliki elektrolit tester untuk digunakan praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
6.      Membuat siswa lebih kreatif dan inovatif
7.      Menunjang proses pembelajaran
8.      Sebagai bahan informasi bagi pembaca pada umumnya dan penulis












II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Pembelajaran
Sumiati dan  Asra (2017) menyatakan metode pembelajaraan menekankan pada proses belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar.  Salah satu metode pembelajaraan adalah.
1.      Metode Demonstrasi dan Eksperimen, metode demonstrasi dilakukan pertunjukan sesuatu proses, berkenaan dengan materi pembelajaran. Pelaksanaan demonstrasi seringkali diikuti dengan eksperimen, yaitu percobaan tentang sesuatu. Perbedaan utama antara demonstrasi dan eksperimen, temyata hanya pada pelaksanaan. Demontrasi hanya mempertunjukkan sesuatu proses di depan kelas. Sedangkan eksperimen memberi kesempatan kepada siswa melakukan percobaan.
2.      Metode Inquiry dan Discovery,  pada dasarnya dua metode pembelajaran yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Inquiry artinya penyelidikan, sedangkan discovery adalah penemuan. Dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh suatu penemuan. Metode pembelajaran ini berkembang dari ide Dewey (1913) yang terkenal dengan "Problem Solving Method" atau metode pemecahan masalah.
3.      Metode Latihan dan Praktek , dalam belajar verbal dan belajar keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar dapat dicapai melalui latihan dan praktek. Latihan biasanya belangsung dengan cara mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, praktek biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi pengalaman belajar yang bersifat langsung.

2.2 Teori Belajar Tuntas
Asrori (2007) mengatakan sesungguhnya lebih baik siswa belajar sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak tapi dangkal. Sehingga seorang guru harus berani menuntaskan materi sebelum melanjutkan ke materi berikutnya supaya tidak terjadi kesalahan kopsepsi pada materi yang dipelajari yang berakibat kesulitan mempelajari konsep-konsep materi berikutnya.  Sumiati dan  Asra (2017), belajar tuntas dapat diartikan sebagai penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh materi pembelajaran yang dipelajari. Hal ini berlandaskan suatu gagasan bahwa kebanyakan siswa dapat menguasai apa yang diajarkan seko1ah, jika pembelajaran dilakukan secara sistematis.

2.3 Media Pembejaraan
Sanjaya (2013) mengatakan agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk mengajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan antara lain.
1.      Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media digunakan membantu siswa belajar sesuai dengan kemampuan yang ingin dicapai.
2.      Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran.
3.      Media pembelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
4.      Media pembelajaran harus efektifitas dan efesien.
5.      Media pembelajaran harus sesuai dengan kemampuan guru untuk mengoperasikannya.

2. 4 Pengadaan Media
Sumiati dan  Asra (2017) mengatakan jika pengadaan media pembelajaran dengan cara membuat sendiri, maka perlu menempuh langkah-langkah berikut.
1.      Menentukan bahan dan alat yang diperlukan.  Bahan sebaiknya mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Jika harus membeli, maka bahan tersebut hendaknya murah harganya agar tidak memberatkan sekolah, guru, dan siswa.
2.      Membuat pola dasar/sket media pembelajaran tersebut. Berdasarkan pola dasar/sket itu lalu dibuat media pembelajaran yang memadai yang dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi), aktivitas, kreativitas, minat siswa.
3.      Memelihara dan merawat media pembelajaran selama dan sesudah digunakan.
III.METODOLOGI

3. 1 Tempat dan Waktu
            Penelitian  dilakukan selama proses pembelajaran di sekolah dari bulan Februari 2018 sampai April 2018 di luar ruang atau dalam ruang laboratorium MAN 1 Jembrana.  Mulai tahap persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan (pembelajaran di sekolah) dan tahap pelaporan.

3.        2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah kegiatan eksperimen siswa kelas X-IPA dengan jumlah siswa X-IPA1: laki-laki 10 dan perempuan 18, X-IPA2 : laki-laki 9 dan perempuan 17, X-IPA3 : laki-laki 9 dan perempuan 18, X-IPA4 : laki-laki 9 dan perempuan 17 dan X-IPA5 : laki-laki 9 dan perempuan 17, jumlah siswa MAN 1 Jembrana kelas X-IPA1 sampai X-IPA5= 133 tahun pelajaran 2017/2018.

3. 3 Batasan Masalah Penelitian
Batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah pendapat siswa praktikum di luar ruang laboratorium, pembuatan alat uji elektrolit, pengunaan bahan di lingkungan sekitar (bahan limbah) dan hasil belajar siswa.

3. 4 Metode Penelitian
            Metode yang digunakan penelitian ini adalah deskripsif  eksperimen, dengan beberapa tahapan.

3. 5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam metode eksperimen adalah
Alat-alat          :  Elektroda (karbon, paku, penjepit kertas, tembaga), kabel, lampu, gelas aqua, isolasi
Bahan-bahan  :  air laut, air sungai, air sumur, air PDAM, aqua, garam dapur, asam sitrat, gula, cuka, alkohol, urea, soda kue, deterjen, air jeruk, air belimbing

3. 6 Prosedur Kerja
3. 6. 1 Gambaran umum prosedur penelitian
A.    Mendesain Elektrolit Tester, gambar desain A dan desain B tertulis di LKS
B.     Membuat Elektrolit Tester dan melakukan Praktikum, dengan cara kerja tertulis di LKS
C.     Menyebarkan angket

            1                                                          2
            3                                  4                             5                     6   
Gambar 1. (1) Alat dan bahan elektrolit tester, (2) Bahan yang diuji, (3) Elektrolit tester   desain   A, (4) Cara penggunaan  elektrolit  tester  desain A, (5) Elektrolit tester desain B, (6) Cara penggunaan elektrolit tester desain B

3. 6. 2 Rincian prosedur penelitian
Secara rinci pelaksanaan meliputi langkah-langkah:
a. Tahap perencanaan (Persiapan)
1.      Menentukan kelas penelitian
2.      Menetapkan waktu memulainya penelitian.
3.      Menetapkan materi pelajaran.
4.      Membuat  rencana  pembelajaran, berisi  materi  yang di eksperimenkan, LKS, Kisi-kisi soal, Soal dan Rubrik pengskoran lampiran 5
b. Tahap pelaksanaan (Implementasi)
1.      Melaksanakan eksperimen.
2.      Menyebarkan angket tanggapan siswa tentang  Melaksanakan tes tulis dan tes formatif

c. Tahap observasi (pemantauan) dan evaluasi
Pelaksanaan observasi dilakukan oleh guru, dengan menggunakan alat bantu berupa lembar angket atau kuesioner tanggapan siswa tentang hasil eksperimen dan pelaksanaan eksperimen, nilai pembuatan laporan, test lisan dan test tulis atau  test formatif .

3. 7 Analisis Data
            Data yang didapat dianalisis dengan rumus :  secara grafik dengan microsoft exel

3. 8 Indikator Keberhasilan
Kriteria keberhasilan adalah apabila :
ü  lebih dari 70 % siswa memperoleh nilai ≥ 77 baik nilai kognitif maupun psikomotor
ü  lebih 70 % siswa toleransi praktikum di luar laboratorium
ü  siswa dapat memilih sendiri desain elektroda yang akan dibuat

3. 9 Jadwal Kegiatan Penelitian
Adapun jadwal kegiatan penelitian dapat di lihat di tabel 1
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil Data Pengamatan
            Setelah dilakukan pengamatan dari tahap pengambilan data didapat :
1.        Jumlah Siswa yang mengisi mengisi angket tampak pada tabel 2
Tabel 2. Prosentase siswa yang mengisi kuessioner dan praktikum
No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Total
Jumlah Siswa Yang Mengikuti
Keterangan
Eksperimen
Kuessioner
1
X-IPA1
10
18
28
28
27
satu siswa sakit
2
X-IPA2
9
17
26
26
26
 lima siswa dispensasi
3
X-IPA3
9
18
27
27
22
4
X-IPA4
9
17
26
26
22
empat siswa dispensasi
5
X-IPA5
9
17
26
26
26
Total
46
87
133
133
123


2.        Format lembar pertanyaan lampiran 6 dan contoh scan jawaban kuesioner lampiran 7, rekap jawaban lampiran 8, rekap data  eksperimen di luar laboratorium, mengusahakan alat dan bahan di luar laboratorium lampiran 9. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 3. Rekap Jawaban Lembar Eksperimen Luar Laboratorium
No
Kelas
Prosentase Senang praktikum di ruang laboratorium
Prosentase Senang praktikum di luar ruang laboratorium
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
1
X-IPA1
93%
7%
78%
22%
2
X-IPA2
96%
4%
81%
19%
3
X-IPA3
100%
0%
73%
27%
4
X-IPA4
95%
5%
50%
50%
5
X-IPA5
88%
12%
85%
15%

Total
94%
6%
74%
26%
 
Tabel 4. Prosentrase Mengusahakan Bahan dan Membuat Alat Praktikum

No
Kelas
Prosentase Senang bahan yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang laboratorium
Prosentase Senang mengusahakan bahan praktikum sendiri
Prosentase Mudah mengusaha-kan bahan praktikum
Prosentase Senang alat yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang laboratorium
Prosentase Senang membuat alat praktikum sendiri
Prosentase Mudah membuat alat praktikum
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
Sulit
Mudah
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
Sulit
Mudah
1
X-IPA1
96%
4%
89%
11%
22%
78%
96%
4%
78%
22%
37%
63%
2
X-IPA2
85%
15%
69%
31%
58%
42%
100%
0%
73%
27%
58%
42%
3
X-IPA3
95%
5%
82%
18%
45%
55%
100%
0%
32%
68%
73%
27%
4
X-IPA4
100%
0%
59%
41%
95%
5%
100%
0%
64%
36%
82%
18%
5
X-IPA5
77%
23%
73%
27%
19%
81%
92%
8%
38%
62%
50%
50%

Total
90%
10%
75%
25%
46%
54%
98%
2%
58%
42%
59%
41%

3.        Format lembar pertanyaan lampiran 10, contoh scan jawaban kuesioner  desain alat lampiran 11 dan rekapan jawaban desain alat lampiran 12. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 5. Prosentase Desain Alat
No
PERNYATAAN
PROSENTASE JAWABAN UNTUK KELAS
X-IPA1
X-IPA2
X-IPA3
X-IPA4
X-IPA5
TOTAL
A
B
A
B
A
B
A
B
A
B
A
B
1
Desain paling mudah dibuat
48%
52%
92%
8%
59%
41%
36%
64%
42%
58%
56%
44%
2
Desain elektrodanya kemungkinan besar tidak bersentuhan selama percobaaan
33%
67%
27%
73%
0%
100%
64%
36%
42%
58%
33%
67%
3
Desain  yang lebih cepat untuk mendapatkan data pengamatan
26%
74%
38%
62%
23%
77%
14%
86%
15%
85%
24%
76%
4
Desain yang lebih mudah mengamati hasil percobaan
37%
63%
38%
62%
23%
77%
41%
59%
38%
62%
36%
64%
4.        Format lembar pertanyaan lampiran 13, contoh scan jawaban kuesioner  data pengamatan eksperimen lampiran 14 dan rekapan jawaban tingkat kevalidan lampiran 15 . Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 6. Prosentase Tingkat Kevalidan Desain Alat
No
Kriteria
DESAIN A
DESAIN B
DESAIN A
DESAIN B
X-IPA1
X-IPA2
X-IPA3
X-IPA4
X-IPA5
1
Valid
79%
83%
94%
100%
98%
81%
97%
2
Tidak Valid
21%
17%
6%
0%
2%
19%
3%
5.        Analisis hasil ecaluasi belajar tes lisan lampiran 16, perbaikan lampiran 17, scan  penilaian hasil lampiran 18, analisis   evaluasi belajar siswa tes tulis lampiran 19, perbaikan lampiran 20 dan scan contoh hasil ulangan lampiran 21. Data diperoleh
Tabel 7. Prosentase Ketuntasan Belajar dan Daya Serap Siswa
No
Kelas
Ketuntasan Belajar
Daya Serap Siswa
Tes Lisan
Perbaikan Tes Lisan
Tes Tulis
Perbaikan Tes Tulis
Tes Lisan
Perbaikan Tes Lisan
Tes Tulis
Perbaikan Tes Tulis
1
X-IPA1
71%
100%
54%
100%
83%
94%
78%
90%
2
X-IPA2
65%
100%
27%
100%
81%
87%
64%
82%
3
X-IPA3
85%
100%
44%
100%
95%
91%
91%
89%
4
X-IPA4
70%
100%
65%
100%
81%
92%
80%
92%
5
X-IPA5
69 %
100%
65%
100%
83%
91%
80%
87%

4.2  Pembahasan
Semua siswa mengikuti praktikum. Prosentase jumlah siswa yang mengisi angket  paling sedikit 81 % kelas X-IPA3, jumlah tersebut masih dianggab baik. Prosentase jumlah siswa senang praktikum di ruang laboratorium terkecil 81% kelas X-IPA3, terbesar 100 % kelas X-IPA2 dan X-IPA5. Total 94 % siswa senang praktikum di ruang   laboratorium. Sedangkan siswa  senang   praktikum di luar   ruang   laboratorium  terkecil 50 %  kelas X-IPA4,  terbesar 85 % kelas X-IPA5. Total 74 % siswa senang praktikum di luar ruang   laboratorium. Artinya hampir semua siswa lebih suka praktikum di laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, tetapi mereka masih mentoleransi jika harus praktikum di luar laboratorium. Prosentase jumlah siswa senang bahan praktikum dari ruang   laboratorium terkecil  77 %  kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA4.  Total 90 % siswa senang bahan praktikum dari ruang   laboratorium. Sedangkan siswa senang  bahan  praktikum  dari  luar   ruang   laboratorium  terkecil  59 %  kelas X-IPA4, terbesar 89 % kelas X-IPA1. Total 75 % siswa senang bahan  praktikum  dari  luar   ruang   laboratorium.  Tingkat  kesulitan mendapatkan bahan terkecil 19 % kelas X-IPA5, terbesar 95 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan mendapatkan bahan. Artinya sebagian besar siswa lebih suka bahan praktikum berasal dari ruang laboratorium dibandingkan di luar ruang laboratorium, tetapi mereka mentoleransi jika disuruh membawa bahan dari luar dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan sulit, kelas X-IPA5 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.  
Prosentase jumlah siswa senang alat praktikum dari ruang   laboratorium terkecil 92 % kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4. Total 98 % siswa senang alat praktikum dari ruang   laboratorium. Sedangkan siswa  senang  membuat  alat  praktikum  terkecil  32 %  kelas X-IPA3, terbesar 78 % kelas X-IPA1. Total 58 % siswa senang membuat alat  praktikum. Tingkat kesulitan membuat alat praktikum terkecil 37 % kelas X-IPA1, terbesar 82 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan membuat alat praktikum. Artinya sebagian besar siswa lebih suka alat praktikum berasal dari ruang laboratorium dibandingkan membuat alat praktikum, tetapi mereka terpaksa toleransi jika disuruh membuat alat praktikum dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan sulit, kelas X-IPA1 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang. 
Prosentase jumlah siswa yang menyatakan 92 % desain A lebih mudah kelas X-IPA2, 64 % desain B lebih mudah kelas X-IPA4, total 56 % jumlah siswa menyatakan desain A lebih mudah dibuat dibandingkan desain B, artinya baik desain A dan B sama-sama bisa dibuat. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan elektroda yang  kemungkinan  besar  tidak  bersentuhan  67 %  desain  A  kelas  X-IPA4,  100 %  desain  B  kelas X-IPA3,  total 67 % desain B dibanding desain A. Prosentase jumlah siswa yang lebih cepat mendapat data yaitu 38 % desain A kelas X-IPA2, 86 % desain B kelas X-IPA4, total 76 % desain B dibandingkan A. Prosentase jumlah yang menyatakan lebih mudah mengamati hasil percobaan yaitu 41 % desain A kelas X-IPA4, 77 % desain B kelas X-IPA3, total 64 % desain B lebih baik dari desain A. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan valid data untuk desain A jumlah terkecil 79 %  kelas  X-IPA1,  terbesar  kelas   X-IPA2 83 % dan desain B jumlah terkecil 94 % kelas X-IPA4, terbesar 100 % kelas X-IPA4, total 97 % desain B lebih valid daripada desain A. Artinya secara keseluruhan desain B lebih baik digunakan dibandingkan desain A, walaupun pembuatannya sedikit lebih rumit tetapi lebih efesien, efektif dalam proses pengamatan dan kesalahan yang terjadi akibat elektroda saling bersentuhan lebih minim lagi.
Baik desain A dan B, siswa bisa memahami cara pembuatannya dan penggunaannya, terjadinya kesalahan dalam penggunaan akibat siswa kurang kompak saat praktikum, elektroda bersentuhan, lalai mengamati elektroda, focus ke lampu,  lalai mencuci elektroda, di akhir percobaan siswa sudah menyadari kesalahannya dengan menuliskan di laporan praktikum siswa. Elektrolit tester yang dibuat masih cukup layak dipakai sebagai alat uji elektrolit.
Prosentase ketuntasan belajar siswa  untuk tes lisan terkecil 65 %  kelas  X-IPA2, terbesar 85 % kelas X-IPA3. Prosentase ketuntasan belajar siswa untuk tes tulis terkecil 27 %  kelas  X-IPA2,  terbesar 65 % X-IPA4 dan X-IPA5. Diadakan program perbaikan diperoleh 100 % prosentase ketuntasan belakar siswa. Prosentase data serap siswa untuk tes   lisan   terkecil  81 %   kelas X-IPA2 dan X-IPA4, terbesar 95 % kelas X-IPA3, setelah program perbaikan daya serap siswa kelas X-IPA2 meningkat 87 % dan kelas X-IPA4 daya serap siswa 92 %, daya serap siswa tertinggi kelas X-IPA1 yaitu 94 %. Prosentase daya serap siswa untuk tes tulis terkecil 64 % kelas X-IPA2, setelah perbaikan  meningkat 82 %  dan  daya serap  siswa  tertinggi  91 %  kelas  X-IPA3  setelah  perbaikan  meningkat 92 %, rata-rata IQ 98,68, rata-rata  bawah  58 %   artinya siswa kelas X-IPA dalam belajar masih diperlukan program perbaikan, bagi siswa yang belum tuntas dengan jalan mengulang materi pelajaran yang sama dan metode memodivikasi antara metode eksperimen, inquiry, discovery, latihan dan praktek sehingga  terjadi peningkatan hasil belajar siswa, ini bisa dibuktikan setelah program perbaikan ketuntasan belajar 100 %.
      
(1)                         (2)                     (3)                           (4)               
Gambar 2.   Suasana praktikum memakai elektrolit tester desain A dan B di dalam dan luar ruang laboratorium. (1) bahan yang diuji dan siswa praktek di laboratorium, (2) desain A (3) desain B (4) praktek di luar laboratorium
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
Dari data penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa.
Siswa kelas X-IPA lebih senang praktikum di dalam laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, toleransi siswa praktikum di luar laboratorium jika ruang laboratorium dipakai kelas lain tergolong sedang. Siswa memahami praktikum larutan elektrolit dapat dilakukan di luar laboratorium.
Siswa kelas X-IPA lebih senang mengunakan alat dan bahan di dalam laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, siswa cukup toleransi untuk mencari bahan dan membuat elektrolit tester dengan desain A dan B. Prosentase kevalidan desain A 81 % dan desain B 97 %. Desain yang paling baik digunakan adalah desain B. Desain A masih layak digunakan.
Pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah  pada materi larutan elektrolit dapat dipahami oleh siswa. Siswa paham baik desain A dan B bisa digunakan bersama, menggunakan desain B data lebih cepat teramati, kekompakan kerja tim lebih terlihat menggunakan desain A
Rata-rata bawah siswa kelas X-IPA lebih banyak dibandingkan rata-rata atas, hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah terjadi peningkatan, walaupun pada awalnya siswa belum tuntas,  dengan program perbaikan maka ketuntasan belajar siswa bisa mencapai 100 %

5. 2 Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka pembuatan elektrolit tester dari bahan limbah memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Disarankan antara lain.
1.      Laboran perlu mengembangkan alat praktikum yang lain agar pembelajaran metode eksperimen tetap bisa berjalan
2.      Menggunakan ruang di luar laboratorium, jika laboratorium sudah digunakan kelas yang berbeda.
I. PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Allah SWT menciptakan alam seisinya dengan sempurna. Pembelajaran Sains akan berjalan lebih baik dan bagus jika menggunakan metode eksperimen, melalui eksperimen anak akan lebih mengetahui apa yang dulunya belum diketahui, sehingga ada keseimbangan antara teori dan praktik. Bereksperimen tidak selamanya dilakukan di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun luar ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Guru dan tenaga laboran harus juga tahu praktik apa saja yang bisa dilakukan di luar ruang laboratorium.
Jumlah  siswa MAN 1 Jembrana  pada tahun pelajaran 2017/2018 mencampai 1122 siswa,  yang terdiri dari 37 rombongan belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan belajar, dan 1(satu) laboratorium kimia, tidak  akan mencukupi atau menampung semua kegiatan berbasis eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah  terjadwal.
Jika alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum sudah habis, rusak, atau memang tidak tersedia di ruang laboratorium, eksperimen tetap bisa dilakukan dengan mengganti alat dan bahan.  Bahan praktikum tidak harus sama persis dengan petunjuk di lembar kerja siswa. Jika bahan tersebut tidak ada diganti dengan bahan lain yang memiliki sifat hampir sama yang ada di ruang labotarium atau bahan di lingkungan sekitarnya.
Harga alat uji elektrolit (electrolit tester) antara Rp. 38.500,-  sampai dengan  Rp.950.000,- perbuah  dan harga  elektroda  antara Rp. 22.000  sampai Rp. 74.250,- (lampiran 1).  Jumlah elektrolit tester satu (1) buah (laporan alat laboratorium) (lampiran 2). Jika menggunakan metode demonstrasi masih bisa dilakukan tetapi untuk metode eksperimen tidak mungkin bisa dilaksanakan. Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA (X-IPA1, X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4 dan X-IPA5) adalah 98, 68 dengan rata-rata bawah 58 % (lampiran 3, 4). Untuk mengoptimalkan hasil belajar lebih baik digunakan metode eksperimen dibandingkan metode demostrasi sehingga bisa mengamati langsung.
Elektrolit tester bisa dibuat sendiri dari bahan dilingkungan sekitar, misal : elektroda diambil dari bahan limbah, sehingga eksperimen tetap berjalan dengan baik, tidak ada kata tidak bisa praktikum dengan alasan tidak punya alat dan bahan. Pembuatan elektrolit tester dikerjakan bersama siswa, dengan model di serahkan ke siswa yang mana paling sukai dan dianggab lebih mudah dikerjakan, tetapi tidak melarang siswa mencoba dua(2) desain yang diberikan yaitu desain A dan B, hal ini dilakukan untuk menunbuhkan motivasi dan inovasi dari siswa. Dari penulisan penelitian ini dibatasi untuk pembuatan alat uji elektrolit. Sedangkan data hasil belajar siswa, data praktikum di luar laboratorium, dan mencari bahan praktikum dari lingkungan sekitar merupakan data tambahan.

1. 2 Rumusan Masalah
            Dari permasalahan di atas maka ditarik suatu rumusan masalah yaitu :
1.      Apakah praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit dilakukan di luar laboratorium dapat dipahami oleh siswa ?
2.      Berapa persen tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan B ?
3.      Apakah pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah  pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit dapat dipahami oleh siswa ?
4.      Bagaimana hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah

1. 3 Tujuan
            Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pemahaman/toleransi siswa praktikum di luar laboratorium
2.      Untuk mengetahui prosentase tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan desain B
3.      Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam pembuatan elektrolit tester
4.      Untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah


1. 4 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan adalah
Desain elektrolit tester B lebih valid dibandingkan desain elektrolit tester A (kelompok kotrol) pada pengamatan percobaan

1. 5 Manfaat Penelitian
            Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
1.      Dapat memanfaatkan lingkungan atau ruang di  luar laboratorium untuk praktikum
2.      Dapat memanfaatkan bahan dari lingkungan sekitar
3.      Sebagai salah satu alternative menanggulangi dampak pencemaran lingkungan dengan mengolah sampah (bahan limbah) sebagai produk (elektrolit tester)
4.      Dapat menghemat anggaran biaya laboratorium
5.      Salah satu alternative memecahkan masalah, jika laboratorium tidak memiliki elektrolit tester untuk digunakan praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
6.      Membuat siswa lebih kreatif dan inovatif
7.      Menunjang proses pembelajaran
8.      Sebagai bahan informasi bagi pembaca pada umumnya dan penulis


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Pembelajaran
Sumiati dan  Asra (2017) menyatakan metode pembelajaraan menekankan pada proses belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar.  Salah satu metode pembelajaraan adalah.
1.      Metode Demonstrasi dan Eksperimen, metode demonstrasi dilakukan pertunjukan sesuatu proses, berkenaan dengan materi pembelajaran. Pelaksanaan demonstrasi seringkali diikuti dengan eksperimen, yaitu percobaan tentang sesuatu. Perbedaan utama antara demonstrasi dan eksperimen, temyata hanya pada pelaksanaan. Demontrasi hanya mempertunjukkan sesuatu proses di depan kelas. Sedangkan eksperimen memberi kesempatan kepada siswa melakukan percobaan.
2.      Metode Inquiry dan Discovery,  pada dasarnya dua metode pembelajaran yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Inquiry artinya penyelidikan, sedangkan discovery adalah penemuan. Dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh suatu penemuan. Metode pembelajaran ini berkembang dari ide Dewey (1913) yang terkenal dengan "Problem Solving Method" atau metode pemecahan masalah.
3.      Metode Latihan dan Praktek , dalam belajar verbal dan belajar keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar dapat dicapai melalui latihan dan praktek. Latihan biasanya belangsung dengan cara mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, praktek biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi pengalaman belajar yang bersifat langsung.

2.2 Teori Belajar Tuntas
Asrori (2007) mengatakan sesungguhnya lebih baik siswa belajar sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak tapi dangkal. Sehingga seorang guru harus berani menuntaskan materi sebelum melanjutkan ke materi berikutnya supaya tidak terjadi kesalahan kopsepsi pada materi yang dipelajari yang berakibat kesulitan mempelajari konsep-konsep materi berikutnya.  Sumiati dan  Asra (2017), belajar tuntas dapat diartikan sebagai penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh materi pembelajaran yang dipelajari. Hal ini berlandaskan suatu gagasan bahwa kebanyakan siswa dapat menguasai apa yang diajarkan seko1ah, jika pembelajaran dilakukan secara sistematis.

2.3 Media Pembejaraan
Sanjaya (2013) mengatakan agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk mengajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan antara lain.
1.      Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Media digunakan membantu siswa belajar sesuai dengan kemampuan yang ingin dicapai.
2.      Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran.
3.      Media pembelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
4.      Media pembelajaran harus efektifitas dan efesien.
5.      Media pembelajaran harus sesuai dengan kemampuan guru untuk mengoperasikannya.

2. 4 Pengadaan Media
Sumiati dan  Asra (2017) mengatakan jika pengadaan media pembelajaran dengan cara membuat sendiri, maka perlu menempuh langkah-langkah berikut.
1.      Menentukan bahan dan alat yang diperlukan.  Bahan sebaiknya mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Jika harus membeli, maka bahan tersebut hendaknya murah harganya agar tidak memberatkan sekolah, guru, dan siswa.
2.      Membuat pola dasar/sket media pembelajaran tersebut. Berdasarkan pola dasar/sket itu lalu dibuat media pembelajaran yang memadai yang dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi), aktivitas, kreativitas, minat siswa.
3.      Memelihara dan merawat media pembelajaran selama dan sesudah digunakan.
III.METODOLOGI

3. 1 Tempat dan Waktu
            Penelitian  dilakukan selama proses pembelajaran di sekolah dari bulan Februari 2018 sampai April 2018 di luar ruang atau dalam ruang laboratorium MAN 1 Jembrana.  Mulai tahap persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan (pembelajaran di sekolah) dan tahap pelaporan.

3.        2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah kegiatan eksperimen siswa kelas X-IPA dengan jumlah siswa X-IPA1: laki-laki 10 dan perempuan 18, X-IPA2 : laki-laki 9 dan perempuan 17, X-IPA3 : laki-laki 9 dan perempuan 18, X-IPA4 : laki-laki 9 dan perempuan 17 dan X-IPA5 : laki-laki 9 dan perempuan 17, jumlah siswa MAN 1 Jembrana kelas X-IPA1 sampai X-IPA5= 133 tahun pelajaran 2017/2018.

3. 3 Batasan Masalah Penelitian
Batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah pendapat siswa praktikum di luar ruang laboratorium, pembuatan alat uji elektrolit, pengunaan bahan di lingkungan sekitar (bahan limbah) dan hasil belajar siswa.

3. 4 Metode Penelitian
            Metode yang digunakan penelitian ini adalah deskripsif  eksperimen, dengan beberapa tahapan.

3. 5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam metode eksperimen adalah
Alat-alat          :  Elektroda (karbon, paku, penjepit kertas, tembaga), kabel, lampu, gelas aqua, isolasi
Bahan-bahan  :  air laut, air sungai, air sumur, air PDAM, aqua, garam dapur, asam sitrat, gula, cuka, alkohol, urea, soda kue, deterjen, air jeruk, air belimbing

3. 6 Prosedur Kerja
3. 6. 1 Gambaran umum prosedur penelitian
A.    Mendesain Elektrolit Tester, gambar desain A dan desain B tertulis di LKS
B.     Membuat Elektrolit Tester dan melakukan Praktikum, dengan cara kerja tertulis di LKS
C.     Menyebarkan angket

            1                                                          2
            3                                  4                             5                     6   
Gambar 1. (1) Alat dan bahan elektrolit tester, (2) Bahan yang diuji, (3) Elektrolit tester   desain   A, (4) Cara penggunaan  elektrolit  tester  desain A, (5) Elektrolit tester desain B, (6) Cara penggunaan elektrolit tester desain B

3. 6. 2 Rincian prosedur penelitian
Secara rinci pelaksanaan meliputi langkah-langkah:
a. Tahap perencanaan (Persiapan)
1.      Menentukan kelas penelitian
2.      Menetapkan waktu memulainya penelitian.
3.      Menetapkan materi pelajaran.
4.      Membuat  rencana  pembelajaran, berisi  materi  yang di eksperimenkan, LKS, Kisi-kisi soal, Soal dan Rubrik pengskoran lampiran 5
b. Tahap pelaksanaan (Implementasi)
1.      Melaksanakan eksperimen.
2.      Menyebarkan angket tanggapan siswa tentang  Melaksanakan tes tulis dan tes formatif

c. Tahap observasi (pemantauan) dan evaluasi
Pelaksanaan observasi dilakukan oleh guru, dengan menggunakan alat bantu berupa lembar angket atau kuesioner tanggapan siswa tentang hasil eksperimen dan pelaksanaan eksperimen, nilai pembuatan laporan, test lisan dan test tulis atau  test formatif .

3. 7 Analisis Data
            Data yang didapat dianalisis dengan rumus :  secara grafik dengan microsoft exel

3. 8 Indikator Keberhasilan
Kriteria keberhasilan adalah apabila :
ü  lebih dari 70 % siswa memperoleh nilai ≥ 77 baik nilai kognitif maupun psikomotor
ü  lebih 70 % siswa toleransi praktikum di luar laboratorium
ü  siswa dapat memilih sendiri desain elektroda yang akan dibuat

3. 9 Jadwal Kegiatan Penelitian
Adapun jadwal kegiatan penelitian dapat di lihat di tabel 1
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil Data Pengamatan
            Setelah dilakukan pengamatan dari tahap pengambilan data didapat :
1.        Jumlah Siswa yang mengisi mengisi angket tampak pada tabel 2
Tabel 2. Prosentase siswa yang mengisi kuessioner dan praktikum
No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Total
Jumlah Siswa Yang Mengikuti
Keterangan
Eksperimen
Kuessioner
1
X-IPA1
10
18
28
28
27
satu siswa sakit
2
X-IPA2
9
17
26
26
26
 lima siswa dispensasi
3
X-IPA3
9
18
27
27
22
4
X-IPA4
9
17
26
26
22
empat siswa dispensasi
5
X-IPA5
9
17
26
26
26
Total
46
87
133
133
123


2.        Format lembar pertanyaan lampiran 6 dan contoh scan jawaban kuesioner lampiran 7, rekap jawaban lampiran 8, rekap data  eksperimen di luar laboratorium, mengusahakan alat dan bahan di luar laboratorium lampiran 9. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 3. Rekap Jawaban Lembar Eksperimen Luar Laboratorium
No
Kelas
Prosentase Senang praktikum di ruang laboratorium
Prosentase Senang praktikum di luar ruang laboratorium
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
1
X-IPA1
93%
7%
78%
22%
2
X-IPA2
96%
4%
81%
19%
3
X-IPA3
100%
0%
73%
27%
4
X-IPA4
95%
5%
50%
50%
5
X-IPA5
88%
12%
85%
15%

Total
94%
6%
74%
26%
 
Tabel 4. Prosentrase Mengusahakan Bahan dan Membuat Alat Praktikum

No
Kelas
Prosentase Senang bahan yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang laboratorium
Prosentase Senang mengusahakan bahan praktikum sendiri
Prosentase Mudah mengusaha-kan bahan praktikum
Prosentase Senang alat yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang laboratorium
Prosentase Senang membuat alat praktikum sendiri
Prosentase Mudah membuat alat praktikum
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
Sulit
Mudah
Senang
Tidak Senang
Senang
Tidak Senang
Sulit
Mudah
1
X-IPA1
96%
4%
89%
11%
22%
78%
96%
4%
78%
22%
37%
63%
2
X-IPA2
85%
15%
69%
31%
58%
42%
100%
0%
73%
27%
58%
42%
3
X-IPA3
95%
5%
82%
18%
45%
55%
100%
0%
32%
68%
73%
27%
4
X-IPA4
100%
0%
59%
41%
95%
5%
100%
0%
64%
36%
82%
18%
5
X-IPA5
77%
23%
73%
27%
19%
81%
92%
8%
38%
62%
50%
50%

Total
90%
10%
75%
25%
46%
54%
98%
2%
58%
42%
59%
41%

3.        Format lembar pertanyaan lampiran 10, contoh scan jawaban kuesioner  desain alat lampiran 11 dan rekapan jawaban desain alat lampiran 12. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 5. Prosentase Desain Alat
No
PERNYATAAN
PROSENTASE JAWABAN UNTUK KELAS
X-IPA1
X-IPA2
X-IPA3
X-IPA4
X-IPA5
TOTAL
A
B
A
B
A
B
A
B
A
B
A
B
1
Desain paling mudah dibuat
48%
52%
92%
8%
59%
41%
36%
64%
42%
58%
56%
44%
2
Desain elektrodanya kemungkinan besar tidak bersentuhan selama percobaaan
33%
67%
27%
73%
0%
100%
64%
36%
42%
58%
33%
67%
3
Desain  yang lebih cepat untuk mendapatkan data pengamatan
26%
74%
38%
62%
23%
77%
14%
86%
15%
85%
24%
76%
4
Desain yang lebih mudah mengamati hasil percobaan
37%
63%
38%
62%
23%
77%
41%
59%
38%
62%
36%
64%
4.        Format lembar pertanyaan lampiran 13, contoh scan jawaban kuesioner  data pengamatan eksperimen lampiran 14 dan rekapan jawaban tingkat kevalidan lampiran 15 . Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel 6. Prosentase Tingkat Kevalidan Desain Alat
No
Kriteria
DESAIN A
DESAIN B
DESAIN A
DESAIN B
X-IPA1
X-IPA2
X-IPA3
X-IPA4
X-IPA5
1
Valid
79%
83%
94%
100%
98%
81%
97%
2
Tidak Valid
21%
17%
6%
0%
2%
19%
3%
5.        Analisis hasil ecaluasi belajar tes lisan lampiran 16, perbaikan lampiran 17, scan  penilaian hasil lampiran 18, analisis   evaluasi belajar siswa tes tulis lampiran 19, perbaikan lampiran 20 dan scan contoh hasil ulangan lampiran 21. Data diperoleh
Tabel 7. Prosentase Ketuntasan Belajar dan Daya Serap Siswa
No
Kelas
Ketuntasan Belajar
Daya Serap Siswa
Tes Lisan
Perbaikan Tes Lisan
Tes Tulis
Perbaikan Tes Tulis
Tes Lisan
Perbaikan Tes Lisan
Tes Tulis
Perbaikan Tes Tulis
1
X-IPA1
71%
100%
54%
100%
83%
94%
78%
90%
2
X-IPA2
65%
100%
27%
100%
81%
87%
64%
82%
3
X-IPA3
85%
100%
44%
100%
95%
91%
91%
89%
4
X-IPA4
70%
100%
65%
100%
81%
92%
80%
92%
5
X-IPA5
69 %
100%
65%
100%
83%
91%
80%
87%

4.2  Pembahasan
Semua siswa mengikuti praktikum. Prosentase jumlah siswa yang mengisi angket  paling sedikit 81 % kelas X-IPA3, jumlah tersebut masih dianggab baik. Prosentase jumlah siswa senang praktikum di ruang laboratorium terkecil 81% kelas X-IPA3, terbesar 100 % kelas X-IPA2 dan X-IPA5. Total 94 % siswa senang praktikum di ruang   laboratorium. Sedangkan siswa  senang   praktikum di luar   ruang   laboratorium  terkecil 50 %  kelas X-IPA4,  terbesar 85 % kelas X-IPA5. Total 74 % siswa senang praktikum di luar ruang   laboratorium. Artinya hampir semua siswa lebih suka praktikum di laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, tetapi mereka masih mentoleransi jika harus praktikum di luar laboratorium. Prosentase jumlah siswa senang bahan praktikum dari ruang   laboratorium terkecil  77 %  kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA4.  Total 90 % siswa senang bahan praktikum dari ruang   laboratorium. Sedangkan siswa senang  bahan  praktikum  dari  luar   ruang   laboratorium  terkecil  59 %  kelas X-IPA4, terbesar 89 % kelas X-IPA1. Total 75 % siswa senang bahan  praktikum  dari  luar   ruang   laboratorium.  Tingkat  kesulitan mendapatkan bahan terkecil 19 % kelas X-IPA5, terbesar 95 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan mendapatkan bahan. Artinya sebagian besar siswa lebih suka bahan praktikum berasal dari ruang laboratorium dibandingkan di luar ruang laboratorium, tetapi mereka mentoleransi jika disuruh membawa bahan dari luar dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan sulit, kelas X-IPA5 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.  
Prosentase jumlah siswa senang alat praktikum dari ruang   laboratorium terkecil 92 % kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4. Total 98 % siswa senang alat praktikum dari ruang   laboratorium. Sedangkan siswa  senang  membuat  alat  praktikum  terkecil  32 %  kelas X-IPA3, terbesar 78 % kelas X-IPA1. Total 58 % siswa senang membuat alat  praktikum. Tingkat kesulitan membuat alat praktikum terkecil 37 % kelas X-IPA1, terbesar 82 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan membuat alat praktikum. Artinya sebagian besar siswa lebih suka alat praktikum berasal dari ruang laboratorium dibandingkan membuat alat praktikum, tetapi mereka terpaksa toleransi jika disuruh membuat alat praktikum dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan sulit, kelas X-IPA1 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang. 
Prosentase jumlah siswa yang menyatakan 92 % desain A lebih mudah kelas X-IPA2, 64 % desain B lebih mudah kelas X-IPA4, total 56 % jumlah siswa menyatakan desain A lebih mudah dibuat dibandingkan desain B, artinya baik desain A dan B sama-sama bisa dibuat. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan elektroda yang  kemungkinan  besar  tidak  bersentuhan  67 %  desain  A  kelas  X-IPA4,  100 %  desain  B  kelas X-IPA3,  total 67 % desain B dibanding desain A. Prosentase jumlah siswa yang lebih cepat mendapat data yaitu 38 % desain A kelas X-IPA2, 86 % desain B kelas X-IPA4, total 76 % desain B dibandingkan A. Prosentase jumlah yang menyatakan lebih mudah mengamati hasil percobaan yaitu 41 % desain A kelas X-IPA4, 77 % desain B kelas X-IPA3, total 64 % desain B lebih baik dari desain A. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan valid data untuk desain A jumlah terkecil 79 %  kelas  X-IPA1,  terbesar  kelas   X-IPA2 83 % dan desain B jumlah terkecil 94 % kelas X-IPA4, terbesar 100 % kelas X-IPA4, total 97 % desain B lebih valid daripada desain A. Artinya secara keseluruhan desain B lebih baik digunakan dibandingkan desain A, walaupun pembuatannya sedikit lebih rumit tetapi lebih efesien, efektif dalam proses pengamatan dan kesalahan yang terjadi akibat elektroda saling bersentuhan lebih minim lagi.
Baik desain A dan B, siswa bisa memahami cara pembuatannya dan penggunaannya, terjadinya kesalahan dalam penggunaan akibat siswa kurang kompak saat praktikum, elektroda bersentuhan, lalai mengamati elektroda, focus ke lampu,  lalai mencuci elektroda, di akhir percobaan siswa sudah menyadari kesalahannya dengan menuliskan di laporan praktikum siswa. Elektrolit tester yang dibuat masih cukup layak dipakai sebagai alat uji elektrolit.
Prosentase ketuntasan belajar siswa  untuk tes lisan terkecil 65 %  kelas  X-IPA2, terbesar 85 % kelas X-IPA3. Prosentase ketuntasan belajar siswa untuk tes tulis terkecil 27 %  kelas  X-IPA2,  terbesar 65 % X-IPA4 dan X-IPA5. Diadakan program perbaikan diperoleh 100 % prosentase ketuntasan belakar siswa. Prosentase data serap siswa untuk tes   lisan   terkecil  81 %   kelas X-IPA2 dan X-IPA4, terbesar 95 % kelas X-IPA3, setelah program perbaikan daya serap siswa kelas X-IPA2 meningkat 87 % dan kelas X-IPA4 daya serap siswa 92 %, daya serap siswa tertinggi kelas X-IPA1 yaitu 94 %. Prosentase daya serap siswa untuk tes tulis terkecil 64 % kelas X-IPA2, setelah perbaikan  meningkat 82 %  dan  daya serap  siswa  tertinggi  91 %  kelas  X-IPA3  setelah  perbaikan  meningkat 92 %, rata-rata IQ 98,68, rata-rata  bawah  58 %   artinya siswa kelas X-IPA dalam belajar masih diperlukan program perbaikan, bagi siswa yang belum tuntas dengan jalan mengulang materi pelajaran yang sama dan metode memodivikasi antara metode eksperimen, inquiry, discovery, latihan dan praktek sehingga  terjadi peningkatan hasil belajar siswa, ini bisa dibuktikan setelah program perbaikan ketuntasan belajar 100 %.
      
(1)                         (2)                     (3)                           (4)               
Gambar 2.   Suasana praktikum memakai elektrolit tester desain A dan B di dalam dan luar ruang laboratorium. (1) bahan yang diuji dan siswa praktek di laboratorium, (2) desain A (3) desain B (4) praktek di luar laboratorium
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
Dari data penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa.
Siswa kelas X-IPA lebih senang praktikum di dalam laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, toleransi siswa praktikum di luar laboratorium jika ruang laboratorium dipakai kelas lain tergolong sedang. Siswa memahami praktikum larutan elektrolit dapat dilakukan di luar laboratorium.
Siswa kelas X-IPA lebih senang mengunakan alat dan bahan di dalam laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, siswa cukup toleransi untuk mencari bahan dan membuat elektrolit tester dengan desain A dan B. Prosentase kevalidan desain A 81 % dan desain B 97 %. Desain yang paling baik digunakan adalah desain B. Desain A masih layak digunakan.
Pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah  pada materi larutan elektrolit dapat dipahami oleh siswa. Siswa paham baik desain A dan B bisa digunakan bersama, menggunakan desain B data lebih cepat teramati, kekompakan kerja tim lebih terlihat menggunakan desain A
Rata-rata bawah siswa kelas X-IPA lebih banyak dibandingkan rata-rata atas, hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan limbah terjadi peningkatan, walaupun pada awalnya siswa belum tuntas,  dengan program perbaikan maka ketuntasan belajar siswa bisa mencapai 100 %

5. 2 Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka pembuatan elektrolit tester dari bahan limbah memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Disarankan antara lain.
1.      Laboran perlu mengembangkan alat praktikum yang lain agar pembelajaran metode eksperimen tetap bisa berjalan
2.      Menggunakan ruang di luar laboratorium, jika laboratorium sudah digunakan kelas yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M. Pd, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV. Wacana Prima
Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M. Pd, 2007, Psikologi Pembelajaran, Bandung : CV. Wacana Prima
Dr. Munawaroh, M. Kes, 2012, Panduan Memahami Metodologi Penelitian, Malang : Intimedia
Prof. Dr. Sugiyono, 2013, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung  : CV. Alfabeta
Prof. Dr. Sugiyono, 2014, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung  : CV. Alfabeta
Dra. Sumiati dan Asra, M. Ed, 2007, Metode Pembelajaran, Bandung : CV. Wacana Prima
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M. Pd, 2013, Penelitian Pendidikan (Jenis, Metode dan Prosedur), Jakarta : Prenadamedia Group
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M. Pd, 2013, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Prenadamedia Group
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar