PEMBUATAN ELETROLIT TESTER DARI ELEKTRODA BAHAN LIMBAH BERORIENTASI ANGGARAN
LABORATORIUM DAN HASIL BELAJAR SISWA
OLEH :
HENDAH
TRI SULYANTARI, S. Pd
KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 JEMBRANA
JEMBRANA – BALI
2018
PEMBUATAN ELETROLIT TESTER DARI ELEKTRODA BAHAN LIMBAH
BERORIENTASI ANGGARAN LABORATORIUM DAN HASIL BELAJAR SISWA
Oleh :
HENDAH TRI SULYANTARI, S. Pd
NIP. 19740112 200112 2 002
ABSTRAK
Jumlah siswa MAN 1 Jembrana yang hampir
mencampai 1119 siswa, ada 37 rombongan
belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan belajar, dan
1(satu) laboratorium kimia, tidak akan mencukupi menampung semua kegiatan
berbasis eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah terjadwal karena hampir sebagian besar
gurunya memiliki jam mengajar paling sedikit 28 jam dan paling banyak 35 jam,
belum ditambah tugas tambahan yang lainnya, sehingga sering kali jadwal
mengajarnya hampir bersamaan. Pembelajaran berbasis eksperimen tidak selamanya
dilakukan di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun
luar ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Idealnya
laboratorium harus cukup tersedia alat dan bahan untuk praktikum. Data harga
dari internet electrolit tester tertinggi Rp.950.000,-perbuah dan terendah Rp.
38.500,- perbuah, alangkah lebih baik jika kita bisa menghemat anggaran untuk
pembelian alat dan bahan dengan membuat sendiri dari bahan limbah dan bahan
yang ada dilingkungan sekitarnya. Pembuatan alat uji elektrolit dilakukan untuk
menunbuhkan motivasi, inovasi dan peningkatan hasil beljar siswa.
90 %- 98 % siswa senang praktikum di ruang laboratorium dengan
alat dan bahan berasal dari ruang laboratorium, 56 % desain A lebih mudah
dibuat, 67 % desain B elektrodanya tidak
pernah bersentuhan, 64 % - 76 % desain B lebih cepat mendapat data dan mudah
mengamati hasil percobaan, 49,21 %-100 % untuk satu kelompok dan 49,12 %-100 % untuk enam kelompok ada
penghematan anggaran laboratorium dari segi pembuatan elektrolit tester dari
elektroda bahan bekas dibandingkan dengan elektroda yang dibeli di pabrik.
69,91 %-100 % untuk satu kelompok dan enam kelompok 69,79 %-100 % ada
penghematan anggaran laboratorium dari segi pembuatan elektrolit tester dari
elektroda bahan bekas dibandingkan dengan elektrolit tester dibeli di pabrik. Kebenaran
hasil pengamatan dengan menggunakan elektrolit tester yang dibuat antara 62 %-91
%, Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA = 98,68, Data tes lisan sebelum perbaikan
ketuntasan belajar 69,23 %-84,62 %, setelah perbaikan 100 % dan prosentase daya
serap siswa 80,7 %-95 %, setelah
perbaikan 87%-94 %, dan data tes tulis
sebelum perbaikan ketuntasan belajar 27 %-65 %, setelah perbaikan 100 % dan
prosentase daya serap 64 %-90,6 %, setelah perbaikan 82 %-92,1 %.
I.
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Allah SWT
menciptakan alam seisinya dengan sempurna. Pembelajaran Sains akan berjalan
lebih baik dan bagus jika menggunakan metode eksperimen, melalui eksperimen
anak akan lebih mengetahui apa yang dulunya belum diketahui, sehingga ada
keseimbangan antara teori dan praktik. Bereksperimen tidak selamanya dilakukan
di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun luar
ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Guru dan tenaga
laboran harus juga tahu praktik apa saja yang bisa dilakukan di luar ruang
laboratorium.
Jumlah
siswa
MAN 1 Jembrana pada tahun pelajaran 2017/2018 mencampai
1122 siswa, yang
terdiri dari
37 rombongan belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan
belajar, dan 1(satu) laboratorium kimia, tidak akan mencukupi atau menampung semua kegiatan berbasis
eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah terjadwal.
Jika
alat dan bahan yang akan digunakan
untuk praktikum sudah habis, rusak, atau memang tidak tersedia di ruang laboratorium,
eksperimen tetap bisa dilakukan dengan mengganti alat dan bahan. Bahan
praktikum tidak harus sama persis dengan petunjuk di lembar kerja siswa. Jika
bahan tersebut tidak ada diganti dengan bahan lain yang memiliki sifat hampir sama yang ada di
ruang labotarium atau
bahan di lingkungan
sekitarnya.
Harga
alat
uji elektrolit (electrolit tester) antara Rp. 38.500,- sampai dengan Rp.950.000,- perbuah dan harga elektroda
antara Rp. 22.000 sampai Rp.
74.250,- (lampiran 1).
Jumlah elektrolit
tester satu (1) buah (laporan alat laboratorium) (lampiran 2). Jika
menggunakan metode demonstrasi masih bisa dilakukan tetapi untuk metode eksperimen
tidak mungkin bisa dilaksanakan. Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA (X-IPA1,
X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4 dan X-IPA5) adalah 98, 68 dengan rata-rata bawah 58 %
(lampiran 3, 4). Untuk mengoptimalkan hasil belajar lebih baik digunakan metode
eksperimen dibandingkan metode demostrasi sehingga bisa mengamati langsung.
Elektrolit tester bisa
dibuat sendiri dari bahan dilingkungan sekitar, misal : elektroda diambil dari bahan limbah,
sehingga eksperimen tetap berjalan dengan baik, tidak ada kata tidak bisa praktikum
dengan alasan tidak punya alat dan bahan.
Pembuatan elektrolit
tester dikerjakan bersama siswa, dengan model di serahkan ke siswa yang
mana paling sukai dan dianggab lebih mudah dikerjakan, tetapi tidak melarang
siswa mencoba dua(2) desain yang diberikan yaitu desain A dan B, hal ini
dilakukan untuk menunbuhkan motivasi dan inovasi dari siswa. Dari
penulisan penelitian ini dibatasi untuk pembuatan alat uji elektrolit. Sedangkan data hasil belajar siswa, data praktikum di
luar laboratorium, dan mencari bahan praktikum dari lingkungan sekitar
merupakan data tambahan.
1.
2 Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas maka ditarik suatu
rumusan masalah yaitu :
1. Apakah praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
dilakukan
di luar laboratorium dapat dipahami
oleh siswa ?
2. Berapa persen tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan B ?
3. Apakah pembuatan elektrolit
tester dengan elektroda bahan limbah
pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit dapat dipahami oleh
siswa ?
4. Bagaimana hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah
1.
3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pemahaman/toleransi siswa praktikum
di luar laboratorium
2. Untuk
mengetahui prosentase tingkat kevalidan
elektrolit tester desain A dan desain
B
3. Untuk
mengetahui pemahaman siswa dalam
pembuatan elektrolit tester
4. Untuk
mengetahui hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah
1.
4 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan adalah
Desain elektrolit
tester B lebih valid dibandingkan desain elektrolit tester A (kelompok kotrol) pada pengamatan percobaan
1.
5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah
1. Dapat
memanfaatkan lingkungan atau ruang di
luar laboratorium untuk praktikum
2. Dapat
memanfaatkan bahan dari lingkungan
sekitar
3. Sebagai salah satu alternative menanggulangi dampak
pencemaran lingkungan dengan mengolah sampah (bahan limbah) sebagai produk (elektrolit tester)
4. Dapat menghemat anggaran biaya laboratorium
5. Salah satu alternative memecahkan masalah, jika
laboratorium tidak memiliki elektrolit
tester untuk digunakan praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
6. Membuat siswa lebih kreatif dan inovatif
7. Menunjang proses pembelajaran
8. Sebagai
bahan informasi bagi pembaca pada umumnya dan penulis
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Metode Pembelajaran
Sumiati dan Asra (2017) menyatakan metode
pembelajaraan menekankan
pada proses
belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar. Salah
satu metode pembelajaraan adalah.
1. Metode
Demonstrasi dan
Eksperimen, metode
demonstrasi dilakukan pertunjukan sesuatu proses, berkenaan dengan materi
pembelajaran. Pelaksanaan demonstrasi seringkali diikuti dengan eksperimen,
yaitu percobaan tentang sesuatu. Perbedaan utama antara demonstrasi dan
eksperimen, temyata hanya pada pelaksanaan. Demontrasi hanya mempertunjukkan
sesuatu proses di depan kelas. Sedangkan eksperimen memberi kesempatan kepada
siswa melakukan percobaan.
2. Metode
Inquiry dan Discovery, pada dasarnya dua metode pembelajaran yang
saling berkaitan satu dengan yang lain. Inquiry artinya penyelidikan, sedangkan
discovery adalah penemuan. Dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat
memperoleh suatu penemuan. Metode pembelajaran ini berkembang dari ide Dewey
(1913) yang terkenal dengan "Problem
Solving Method" atau metode pemecahan masalah.
3. Metode
Latihan dan Praktek , dalam
belajar verbal dan belajar keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar
dapat dicapai
melalui latihan dan praktek. Latihan biasanya belangsung dengan cara
mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, praktek
biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi
pengalaman belajar yang bersifat langsung.
2.2 Teori Belajar Tuntas
Asrori (2007) mengatakan sesungguhnya lebih baik siswa
belajar sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak tapi dangkal. Sehingga
seorang guru harus berani menuntaskan materi sebelum melanjutkan ke materi
berikutnya supaya tidak terjadi kesalahan kopsepsi pada materi yang dipelajari
yang berakibat kesulitan mempelajari konsep-konsep materi berikutnya. Sumiati dan Asra (2017), belajar tuntas dapat diartikan sebagai
penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh materi
pembelajaran yang dipelajari. Hal ini berlandaskan suatu gagasan bahwa
kebanyakan siswa dapat menguasai apa yang diajarkan seko1ah, jika pembelajaran
dilakukan secara sistematis.
2.3 Media Pembejaraan
Sanjaya (2013) mengatakan agar media pembelajaran
benar-benar digunakan untuk mengajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus
diperhatikan antara lain.
1.
Media
yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Media digunakan membantu siswa belajar sesuai dengan kemampuan
yang ingin dicapai.
2.
Media
yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Media yang akan
digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran.
3.
Media
pembelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
4.
Media
pembelajaran harus efektifitas dan efesien.
5.
Media
pembelajaran harus sesuai dengan kemampuan guru untuk mengoperasikannya.
2. 4 Pengadaan Media
Sumiati dan Asra
(2017) mengatakan jika pengadaan media pembelajaran
dengan cara membuat sendiri, maka perlu menempuh langkah-langkah berikut.
1.
Menentukan
bahan dan alat yang diperlukan. Bahan sebaiknya
mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Jika harus membeli,
maka bahan tersebut hendaknya murah harganya agar tidak memberatkan sekolah,
guru, dan siswa.
2.
Membuat
pola dasar/sket media pembelajaran tersebut. Berdasarkan pola dasar/sket itu
lalu dibuat media pembelajaran yang memadai yang dapat mengembangkan daya
khayal (imajinasi), aktivitas, kreativitas, minat siswa.
3.
Memelihara
dan merawat media pembelajaran selama dan sesudah digunakan.
III.METODOLOGI
3. 1 Tempat dan
Waktu
Penelitian dilakukan selama proses pembelajaran di sekolah dari bulan
Februari 2018 sampai April 2018 di luar ruang atau
dalam ruang laboratorium MAN 1 Jembrana. Mulai tahap persiapan sampai dengan tahap
pelaksanaan (pembelajaran di sekolah) dan tahap pelaporan.
3.
2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian
ini adalah kegiatan eksperimen siswa kelas X-IPA dengan jumlah siswa X-IPA1: laki-laki 10 dan perempuan 18, X-IPA2 :
laki-laki 9 dan perempuan 17, X-IPA3 : laki-laki 9 dan perempuan 18, X-IPA4 :
laki-laki 9 dan perempuan 17 dan X-IPA5 : laki-laki 9 dan perempuan 17, jumlah siswa MAN 1 Jembrana kelas X-IPA1 sampai X-IPA5= 133 tahun pelajaran 2017/2018.
3. 3 Batasan Masalah Penelitian
Batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini
adalah pendapat siswa praktikum di luar ruang laboratorium, pembuatan alat uji
elektrolit,
pengunaan bahan di lingkungan sekitar (bahan limbah) dan
hasil belajar siswa.
3. 4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan penelitian ini
adalah deskripsif eksperimen, dengan
beberapa tahapan.
3. 5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan dalam metode eksperimen adalah
Alat-alat :
Elektroda (karbon, paku, penjepit kertas, tembaga), kabel, lampu, gelas
aqua, isolasi
Bahan-bahan : air laut, air sungai, air sumur, air PDAM,
aqua, garam dapur, asam sitrat, gula, cuka, alkohol, urea, soda kue, deterjen,
air jeruk, air belimbing
3. 6 Prosedur Kerja
3. 6. 1
Gambaran umum prosedur penelitian
A. Mendesain Elektrolit Tester, gambar desain A dan
desain B tertulis di LKS
B.
Membuat Elektrolit
Tester dan melakukan Praktikum, dengan cara kerja tertulis di LKS
C.
Menyebarkan angket
1 2
3 4 5 6
Gambar 1. (1) Alat dan bahan elektrolit tester, (2) Bahan yang diuji, (3) Elektrolit tester desain A, (4) Cara penggunaan elektrolit
tester desain A, (5) Elektrolit tester desain B, (6) Cara penggunaan elektrolit tester desain B
3. 6. 2 Rincian prosedur penelitian
Secara rinci pelaksanaan meliputi langkah-langkah:
a. Tahap perencanaan (Persiapan)
1.
Menentukan
kelas penelitian
2.
Menetapkan
waktu memulainya penelitian.
3.
Menetapkan
materi pelajaran.
4.
Membuat rencana pembelajaran, berisi materi yang di eksperimenkan, LKS, Kisi-kisi soal, Soal dan Rubrik
pengskoran lampiran 5
b. Tahap pelaksanaan (Implementasi)
1.
Melaksanakan
eksperimen.
2.
Menyebarkan
angket tanggapan siswa tentang
Melaksanakan tes tulis dan tes formatif
c. Tahap observasi (pemantauan) dan evaluasi
Pelaksanaan observasi
dilakukan oleh guru, dengan menggunakan alat bantu berupa lembar angket atau kuesioner
tanggapan siswa tentang hasil
eksperimen dan
pelaksanaan eksperimen, nilai pembuatan laporan, test lisan dan test tulis
atau test formatif .
3. 7
Analisis Data
Data yang
didapat dianalisis dengan rumus : secara
grafik dengan microsoft exel
3. 8 Indikator Keberhasilan
Kriteria keberhasilan adalah apabila :
ü lebih dari 70 % siswa memperoleh nilai
≥ 77 baik nilai kognitif maupun psikomotor
ü lebih 70 % siswa toleransi praktikum di luar laboratorium
ü siswa dapat memilih sendiri desain
elektroda yang akan dibuat
3. 9 Jadwal Kegiatan Penelitian
Adapun jadwal kegiatan penelitian dapat di lihat di
tabel 1
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4. 1 Hasil Data Pengamatan
Setelah dilakukan pengamatan dari
tahap pengambilan data didapat :
1.
Jumlah
Siswa yang mengisi mengisi angket tampak pada tabel 2
Tabel
2. Prosentase siswa yang mengisi kuessioner dan praktikum
No
|
Kelas
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Total
|
Jumlah Siswa Yang Mengikuti
|
Keterangan
|
|
Eksperimen
|
Kuessioner
|
||||||
1
|
X-IPA1
|
10
|
18
|
28
|
28
|
27
|
satu
siswa sakit
|
2
|
X-IPA2
|
9
|
17
|
26
|
26
|
26
|
lima siswa
dispensasi
|
3
|
X-IPA3
|
9
|
18
|
27
|
27
|
22
|
|
4
|
X-IPA4
|
9
|
17
|
26
|
26
|
22
|
empat siswa dispensasi
|
5
|
X-IPA5
|
9
|
17
|
26
|
26
|
26
|
|
Total
|
46
|
87
|
133
|
133
|
123
|
||
2.
Format
lembar pertanyaan lampiran 6 dan contoh scan jawaban kuesioner
lampiran 7, rekap jawaban lampiran 8, rekap data eksperimen di luar
laboratorium, mengusahakan
alat dan bahan di luar laboratorium lampiran 9. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
3. Rekap Jawaban Lembar Eksperimen Luar Laboratorium
No
|
Kelas
|
Prosentase Senang
praktikum di ruang laboratorium
|
Prosentase Senang
praktikum di luar ruang laboratorium
|
||
Senang
|
Tidak Senang
|
Senang
|
Tidak Senang
|
||
1
|
X-IPA1
|
93%
|
7%
|
78%
|
22%
|
2
|
X-IPA2
|
96%
|
4%
|
81%
|
19%
|
3
|
X-IPA3
|
100%
|
0%
|
73%
|
27%
|
4
|
X-IPA4
|
95%
|
5%
|
50%
|
50%
|
5
|
X-IPA5
|
88%
|
12%
|
85%
|
15%
|
Total
|
94%
|
6%
|
74%
|
26%
|
|
Tabel 4. Prosentrase Mengusahakan Bahan
dan Membuat Alat Praktikum
No
|
Kelas
|
Prosentase
Senang bahan yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang
laboratorium
|
Prosentase
Senang mengusahakan bahan praktikum sendiri
|
Prosentase
Mudah mengusaha-kan bahan praktikum
|
Prosentase
Senang alat yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang
laboratorium
|
Prosentase
Senang membuat alat praktikum sendiri
|
Prosentase
Mudah membuat alat praktikum
|
||||||
Senang
|
Tidak
Senang
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Sulit
|
Mudah
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Sulit
|
Mudah
|
||
1
|
X-IPA1
|
96%
|
4%
|
89%
|
11%
|
22%
|
78%
|
96%
|
4%
|
78%
|
22%
|
37%
|
63%
|
2
|
X-IPA2
|
85%
|
15%
|
69%
|
31%
|
58%
|
42%
|
100%
|
0%
|
73%
|
27%
|
58%
|
42%
|
3
|
X-IPA3
|
95%
|
5%
|
82%
|
18%
|
45%
|
55%
|
100%
|
0%
|
32%
|
68%
|
73%
|
27%
|
4
|
X-IPA4
|
100%
|
0%
|
59%
|
41%
|
95%
|
5%
|
100%
|
0%
|
64%
|
36%
|
82%
|
18%
|
5
|
X-IPA5
|
77%
|
23%
|
73%
|
27%
|
19%
|
81%
|
92%
|
8%
|
38%
|
62%
|
50%
|
50%
|
Total
|
90%
|
10%
|
75%
|
25%
|
46%
|
54%
|
98%
|
2%
|
58%
|
42%
|
59%
|
41%
|
|
3.
Format
lembar pertanyaan lampiran 10, contoh scan jawaban kuesioner desain alat lampiran 11 dan rekapan jawaban desain
alat lampiran 12. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
5. Prosentase Desain Alat
No
|
PERNYATAAN
|
PROSENTASE JAWABAN UNTUK KELAS
|
|||||||||||
X-IPA1
|
X-IPA2
|
X-IPA3
|
X-IPA4
|
X-IPA5
|
TOTAL
|
||||||||
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
||
1
|
Desain paling mudah dibuat
|
48%
|
52%
|
92%
|
8%
|
59%
|
41%
|
36%
|
64%
|
42%
|
58%
|
56%
|
44%
|
2
|
Desain elektrodanya kemungkinan besar
tidak bersentuhan selama percobaaan
|
33%
|
67%
|
27%
|
73%
|
0%
|
100%
|
64%
|
36%
|
42%
|
58%
|
33%
|
67%
|
3
|
Desain
yang lebih cepat untuk mendapatkan data pengamatan
|
26%
|
74%
|
38%
|
62%
|
23%
|
77%
|
14%
|
86%
|
15%
|
85%
|
24%
|
76%
|
4
|
Desain yang lebih mudah mengamati hasil
percobaan
|
37%
|
63%
|
38%
|
62%
|
23%
|
77%
|
41%
|
59%
|
38%
|
62%
|
36%
|
64%
|
4.
Format
lembar pertanyaan lampiran 13, contoh scan jawaban kuesioner data pengamatan eksperimen lampiran
14 dan rekapan jawaban tingkat kevalidan lampiran 15 . Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
6. Prosentase Tingkat Kevalidan Desain Alat
No
|
Kriteria
|
DESAIN A
|
DESAIN B
|
DESAIN A
|
DESAIN B
|
|||
X-IPA1
|
X-IPA2
|
X-IPA3
|
X-IPA4
|
X-IPA5
|
||||
1
|
Valid
|
79%
|
83%
|
94%
|
100%
|
98%
|
81%
|
97%
|
2
|
Tidak Valid
|
21%
|
17%
|
6%
|
0%
|
2%
|
19%
|
3%
|
5.
Analisis
hasil ecaluasi belajar tes lisan lampiran 16, perbaikan lampiran 17, scan penilaian hasil lampiran 18, analisis evaluasi belajar siswa tes tulis lampiran 19,
perbaikan lampiran 20 dan scan contoh hasil ulangan lampiran 21. Data diperoleh
Tabel
7. Prosentase Ketuntasan Belajar dan Daya Serap Siswa
No
|
Kelas
|
Ketuntasan
Belajar
|
Daya
Serap Siswa
|
||||||
Tes Lisan
|
Perbaikan Tes Lisan
|
Tes Tulis
|
Perbaikan Tes Tulis
|
Tes Lisan
|
Perbaikan Tes Lisan
|
Tes Tulis
|
Perbaikan Tes Tulis
|
||
1
|
X-IPA1
|
71%
|
100%
|
54%
|
100%
|
83%
|
94%
|
78%
|
90%
|
2
|
X-IPA2
|
65%
|
100%
|
27%
|
100%
|
81%
|
87%
|
64%
|
82%
|
3
|
X-IPA3
|
85%
|
100%
|
44%
|
100%
|
95%
|
91%
|
91%
|
89%
|
4
|
X-IPA4
|
70%
|
100%
|
65%
|
100%
|
81%
|
92%
|
80%
|
92%
|
5
|
X-IPA5
|
69 %
|
100%
|
65%
|
100%
|
83%
|
91%
|
80%
|
87%
|
4.2 Pembahasan
Semua siswa mengikuti praktikum. Prosentase jumlah
siswa yang mengisi angket paling sedikit
81 % kelas X-IPA3, jumlah tersebut masih dianggab baik. Prosentase jumlah siswa
senang praktikum di ruang laboratorium terkecil 81% kelas X-IPA3, terbesar 100
% kelas X-IPA2 dan X-IPA5. Total 94 % siswa senang praktikum di ruang laboratorium. Sedangkan siswa senang praktikum di luar ruang laboratorium terkecil 50 %
kelas X-IPA4, terbesar 85 % kelas
X-IPA5. Total 74 % siswa senang praktikum di luar ruang laboratorium. Artinya hampir semua siswa
lebih suka praktikum di laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, tetapi
mereka masih mentoleransi jika harus praktikum di luar laboratorium. Prosentase
jumlah siswa senang bahan praktikum dari ruang laboratorium terkecil 77 % kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA4. Total 90 % siswa senang bahan praktikum dari
ruang laboratorium. Sedangkan siswa
senang bahan praktikum
dari luar ruang laboratorium
terkecil
59 % kelas X-IPA4, terbesar 89 %
kelas X-IPA1. Total 75 % siswa senang bahan
praktikum dari luar ruang
laboratorium. Tingkat kesulitan mendapatkan bahan terkecil 19 %
kelas X-IPA5, terbesar 95 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan mendapatkan
bahan. Artinya sebagian besar siswa lebih suka bahan praktikum berasal dari
ruang laboratorium dibandingkan di luar ruang laboratorium, tetapi mereka mentoleransi
jika disuruh membawa bahan dari luar dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan
sulit, kelas X-IPA5 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.
Prosentase jumlah siswa senang alat praktikum dari
ruang laboratorium terkecil 92 % kelas
X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4. Total 98 % siswa senang
alat praktikum dari ruang laboratorium.
Sedangkan siswa senang membuat alat
praktikum terkecil 32 %
kelas X-IPA3, terbesar 78 % kelas X-IPA1. Total 58 % siswa senang
membuat alat praktikum. Tingkat
kesulitan membuat alat praktikum terkecil 37 % kelas X-IPA1, terbesar 82 %
kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan membuat alat praktikum. Artinya sebagian
besar siswa lebih suka alat praktikum berasal dari ruang laboratorium
dibandingkan membuat alat praktikum, tetapi mereka terpaksa toleransi jika
disuruh membuat alat praktikum dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan
sulit, kelas X-IPA1 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.
Prosentase jumlah siswa yang menyatakan 92 % desain A
lebih mudah kelas X-IPA2, 64 % desain B lebih mudah kelas X-IPA4, total 56 %
jumlah siswa menyatakan desain A lebih mudah dibuat dibandingkan desain B,
artinya baik desain A dan B sama-sama bisa dibuat. Prosentase jumlah siswa yang
menyatakan elektroda yang kemungkinan besar tidak
bersentuhan 67 %
desain A kelas
X-IPA4, 100 % desain B kelas
X-IPA3, total 67 % desain B dibanding
desain A. Prosentase jumlah siswa yang lebih cepat mendapat data yaitu 38 %
desain A kelas X-IPA2, 86 % desain B kelas X-IPA4, total 76 % desain B
dibandingkan A. Prosentase jumlah yang menyatakan lebih mudah mengamati hasil
percobaan yaitu 41 % desain A kelas X-IPA4, 77 % desain B kelas X-IPA3, total
64 % desain B lebih baik dari desain A. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan
valid data untuk desain A jumlah terkecil 79 % kelas X-IPA1, terbesar kelas X-IPA2
83 % dan desain B jumlah terkecil 94 % kelas X-IPA4, terbesar 100 % kelas
X-IPA4, total 97 % desain B lebih valid daripada desain A. Artinya secara
keseluruhan desain B lebih baik digunakan dibandingkan desain A, walaupun
pembuatannya sedikit lebih rumit tetapi lebih efesien, efektif dalam proses
pengamatan dan kesalahan yang terjadi akibat elektroda saling bersentuhan lebih
minim lagi.
Baik desain A dan B, siswa bisa memahami cara
pembuatannya dan penggunaannya, terjadinya kesalahan dalam penggunaan akibat
siswa kurang kompak saat praktikum, elektroda bersentuhan, lalai mengamati
elektroda, focus ke lampu, lalai mencuci
elektroda, di akhir percobaan siswa sudah menyadari kesalahannya dengan
menuliskan di laporan praktikum siswa. Elektrolit
tester yang dibuat masih cukup layak dipakai sebagai alat uji elektrolit.
Prosentase ketuntasan belajar siswa untuk tes lisan terkecil 65 % kelas
X-IPA2, terbesar 85 % kelas X-IPA3. Prosentase ketuntasan belajar siswa
untuk tes tulis terkecil 27 % kelas X-IPA2,
terbesar 65 % X-IPA4 dan X-IPA5. Diadakan program perbaikan diperoleh
100 % prosentase ketuntasan belakar siswa. Prosentase data serap siswa untuk tes lisan terkecil
81 % kelas X-IPA2 dan X-IPA4,
terbesar 95 % kelas X-IPA3, setelah program perbaikan daya serap siswa kelas
X-IPA2 meningkat 87 % dan kelas X-IPA4 daya serap siswa 92 %, daya serap siswa
tertinggi kelas X-IPA1 yaitu 94 %. Prosentase daya serap siswa untuk tes tulis
terkecil 64 % kelas X-IPA2, setelah perbaikan
meningkat 82 % dan daya serap
siswa tertinggi 91 %
kelas X-IPA3 setelah
perbaikan meningkat 92 %,
rata-rata IQ 98,68, rata-rata bawah 58 % artinya siswa kelas X-IPA dalam belajar masih
diperlukan program perbaikan, bagi siswa yang belum tuntas dengan jalan
mengulang materi pelajaran yang sama dan metode memodivikasi antara metode
eksperimen, inquiry, discovery, latihan dan praktek sehingga terjadi peningkatan hasil belajar siswa, ini
bisa dibuktikan setelah program perbaikan ketuntasan belajar 100 %.
(1)
(2) (3) (4)
Gambar 2. Suasana
praktikum memakai elektrolit tester
desain A dan B di dalam dan luar ruang laboratorium. (1) bahan yang diuji dan
siswa praktek di laboratorium, (2) desain A (3) desain B (4) praktek di luar
laboratorium
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan
Dari data penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan
bahwa.
Siswa kelas
X-IPA lebih senang praktikum di dalam laboratorium dibandingkan di luar
laboratorium, toleransi siswa praktikum di luar laboratorium jika ruang
laboratorium dipakai kelas lain tergolong sedang. Siswa memahami praktikum larutan elektrolit dapat dilakukan
di luar laboratorium.
Siswa kelas
X-IPA lebih senang mengunakan alat dan bahan di dalam laboratorium dibandingkan
di luar laboratorium, siswa cukup toleransi untuk mencari bahan dan membuat elektrolit tester dengan desain A dan B.
Prosentase kevalidan desain A 81 % dan desain B 97 %. Desain yang paling baik
digunakan adalah desain B. Desain A masih layak digunakan.
Pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah pada materi larutan elektrolit
dapat dipahami oleh siswa. Siswa paham baik desain A dan B bisa digunakan
bersama, menggunakan desain B data lebih cepat teramati, kekompakan kerja tim lebih
terlihat menggunakan desain A
Rata-rata
bawah siswa kelas X-IPA lebih banyak dibandingkan rata-rata atas, hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah terjadi peningkatan, walaupun pada awalnya
siswa belum tuntas, dengan program
perbaikan maka ketuntasan belajar siswa bisa mencapai 100 %
5. 2 Saran
Berdasarkan
simpulan diatas, maka pembuatan elektrolit tester dari bahan limbah memiliki
beberapa kelebihan dan kelemahan. Disarankan antara lain.
1.
Laboran
perlu mengembangkan alat praktikum yang lain agar pembelajaran metode
eksperimen tetap bisa berjalan
2.
Menggunakan
ruang di luar laboratorium, jika laboratorium sudah digunakan kelas yang
berbeda.
I.
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Allah SWT
menciptakan alam seisinya dengan sempurna. Pembelajaran Sains akan berjalan
lebih baik dan bagus jika menggunakan metode eksperimen, melalui eksperimen
anak akan lebih mengetahui apa yang dulunya belum diketahui, sehingga ada
keseimbangan antara teori dan praktik. Bereksperimen tidak selamanya dilakukan
di ruang laboratorium, semua tempat baik di ruang laboratorium maupun luar
ruang laboratorium bisa dijadikan tempat untuk bereksperimen. Guru dan tenaga
laboran harus juga tahu praktik apa saja yang bisa dilakukan di luar ruang
laboratorium.
Jumlah
siswa
MAN 1 Jembrana pada tahun pelajaran 2017/2018 mencampai
1122 siswa, yang
terdiri dari
37 rombongan belajar, materi pembelajaran kimia dilaksanakan di 35 rombongan
belajar, dan 1(satu) laboratorium kimia, tidak akan mencukupi atau menampung semua kegiatan berbasis
eksperimen dalam satu ruang laboratorium, meskipun sudah terjadwal.
Jika
alat dan bahan yang akan digunakan
untuk praktikum sudah habis, rusak, atau memang tidak tersedia di ruang laboratorium,
eksperimen tetap bisa dilakukan dengan mengganti alat dan bahan. Bahan
praktikum tidak harus sama persis dengan petunjuk di lembar kerja siswa. Jika
bahan tersebut tidak ada diganti dengan bahan lain yang memiliki sifat hampir sama yang ada di
ruang labotarium atau
bahan di lingkungan
sekitarnya.
Harga
alat
uji elektrolit (electrolit tester) antara Rp. 38.500,- sampai dengan Rp.950.000,- perbuah dan harga elektroda
antara Rp. 22.000 sampai Rp.
74.250,- (lampiran 1).
Jumlah elektrolit
tester satu (1) buah (laporan alat laboratorium) (lampiran 2). Jika
menggunakan metode demonstrasi masih bisa dilakukan tetapi untuk metode eksperimen
tidak mungkin bisa dilaksanakan. Rata-rata IQ siswa kelas X-IPA (X-IPA1,
X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4 dan X-IPA5) adalah 98, 68 dengan rata-rata bawah 58 %
(lampiran 3, 4). Untuk mengoptimalkan hasil belajar lebih baik digunakan metode
eksperimen dibandingkan metode demostrasi sehingga bisa mengamati langsung.
Elektrolit tester bisa
dibuat sendiri dari bahan dilingkungan sekitar, misal : elektroda diambil dari bahan limbah,
sehingga eksperimen tetap berjalan dengan baik, tidak ada kata tidak bisa praktikum
dengan alasan tidak punya alat dan bahan.
Pembuatan elektrolit
tester dikerjakan bersama siswa, dengan model di serahkan ke siswa yang
mana paling sukai dan dianggab lebih mudah dikerjakan, tetapi tidak melarang
siswa mencoba dua(2) desain yang diberikan yaitu desain A dan B, hal ini
dilakukan untuk menunbuhkan motivasi dan inovasi dari siswa. Dari
penulisan penelitian ini dibatasi untuk pembuatan alat uji elektrolit. Sedangkan data hasil belajar siswa, data praktikum di
luar laboratorium, dan mencari bahan praktikum dari lingkungan sekitar
merupakan data tambahan.
1.
2 Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas maka ditarik suatu
rumusan masalah yaitu :
1. Apakah praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
dilakukan
di luar laboratorium dapat dipahami
oleh siswa ?
2. Berapa persen tingkat kevalidan elektrolit tester desain A dan B ?
3. Apakah pembuatan elektrolit
tester dengan elektroda bahan limbah
pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit dapat dipahami oleh
siswa ?
4. Bagaimana hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah
1.
3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pemahaman/toleransi siswa praktikum
di luar laboratorium
2. Untuk
mengetahui prosentase tingkat kevalidan
elektrolit tester desain A dan desain
B
3. Untuk
mengetahui pemahaman siswa dalam
pembuatan elektrolit tester
4. Untuk
mengetahui hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah
1.
4 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan adalah
Desain elektrolit
tester B lebih valid dibandingkan desain elektrolit tester A (kelompok kotrol) pada pengamatan percobaan
1.
5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini adalah
1. Dapat
memanfaatkan lingkungan atau ruang di
luar laboratorium untuk praktikum
2. Dapat
memanfaatkan bahan dari lingkungan
sekitar
3. Sebagai salah satu alternative menanggulangi dampak
pencemaran lingkungan dengan mengolah sampah (bahan limbah) sebagai produk (elektrolit tester)
4. Dapat menghemat anggaran biaya laboratorium
5. Salah satu alternative memecahkan masalah, jika
laboratorium tidak memiliki elektrolit
tester untuk digunakan praktikum larutan elektrolit dan non-elektrolit
6. Membuat siswa lebih kreatif dan inovatif
7. Menunjang proses pembelajaran
8. Sebagai
bahan informasi bagi pembaca pada umumnya dan penulis
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Metode Pembelajaran
Sumiati dan Asra (2017) menyatakan metode
pembelajaraan menekankan
pada proses
belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar. Salah
satu metode pembelajaraan adalah.
1. Metode
Demonstrasi dan
Eksperimen, metode
demonstrasi dilakukan pertunjukan sesuatu proses, berkenaan dengan materi
pembelajaran. Pelaksanaan demonstrasi seringkali diikuti dengan eksperimen,
yaitu percobaan tentang sesuatu. Perbedaan utama antara demonstrasi dan
eksperimen, temyata hanya pada pelaksanaan. Demontrasi hanya mempertunjukkan
sesuatu proses di depan kelas. Sedangkan eksperimen memberi kesempatan kepada
siswa melakukan percobaan.
2. Metode
Inquiry dan Discovery, pada dasarnya dua metode pembelajaran yang
saling berkaitan satu dengan yang lain. Inquiry artinya penyelidikan, sedangkan
discovery adalah penemuan. Dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat
memperoleh suatu penemuan. Metode pembelajaran ini berkembang dari ide Dewey
(1913) yang terkenal dengan "Problem
Solving Method" atau metode pemecahan masalah.
3. Metode
Latihan dan Praktek , dalam
belajar verbal dan belajar keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar
dapat dicapai
melalui latihan dan praktek. Latihan biasanya belangsung dengan cara
mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, praktek
biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi
pengalaman belajar yang bersifat langsung.
2.2 Teori Belajar Tuntas
Asrori (2007) mengatakan sesungguhnya lebih baik siswa
belajar sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak tapi dangkal. Sehingga
seorang guru harus berani menuntaskan materi sebelum melanjutkan ke materi
berikutnya supaya tidak terjadi kesalahan kopsepsi pada materi yang dipelajari
yang berakibat kesulitan mempelajari konsep-konsep materi berikutnya. Sumiati dan Asra (2017), belajar tuntas dapat diartikan sebagai
penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh materi
pembelajaran yang dipelajari. Hal ini berlandaskan suatu gagasan bahwa
kebanyakan siswa dapat menguasai apa yang diajarkan seko1ah, jika pembelajaran
dilakukan secara sistematis.
2.3 Media Pembejaraan
Sanjaya (2013) mengatakan agar media pembelajaran
benar-benar digunakan untuk mengajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus
diperhatikan antara lain.
1.
Media
yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Media digunakan membantu siswa belajar sesuai dengan kemampuan
yang ingin dicapai.
2.
Media
yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Media yang akan
digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran.
3.
Media
pembelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
4.
Media
pembelajaran harus efektifitas dan efesien.
5.
Media
pembelajaran harus sesuai dengan kemampuan guru untuk mengoperasikannya.
2. 4 Pengadaan Media
Sumiati dan Asra
(2017) mengatakan jika pengadaan media pembelajaran
dengan cara membuat sendiri, maka perlu menempuh langkah-langkah berikut.
1.
Menentukan
bahan dan alat yang diperlukan. Bahan sebaiknya
mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Jika harus membeli,
maka bahan tersebut hendaknya murah harganya agar tidak memberatkan sekolah,
guru, dan siswa.
2.
Membuat
pola dasar/sket media pembelajaran tersebut. Berdasarkan pola dasar/sket itu
lalu dibuat media pembelajaran yang memadai yang dapat mengembangkan daya
khayal (imajinasi), aktivitas, kreativitas, minat siswa.
3.
Memelihara
dan merawat media pembelajaran selama dan sesudah digunakan.
III.METODOLOGI
3. 1 Tempat dan
Waktu
Penelitian dilakukan selama proses pembelajaran di sekolah dari bulan
Februari 2018 sampai April 2018 di luar ruang atau
dalam ruang laboratorium MAN 1 Jembrana. Mulai tahap persiapan sampai dengan tahap
pelaksanaan (pembelajaran di sekolah) dan tahap pelaporan.
3.
2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian
ini adalah kegiatan eksperimen siswa kelas X-IPA dengan jumlah siswa X-IPA1: laki-laki 10 dan perempuan 18, X-IPA2 :
laki-laki 9 dan perempuan 17, X-IPA3 : laki-laki 9 dan perempuan 18, X-IPA4 :
laki-laki 9 dan perempuan 17 dan X-IPA5 : laki-laki 9 dan perempuan 17, jumlah siswa MAN 1 Jembrana kelas X-IPA1 sampai X-IPA5= 133 tahun pelajaran 2017/2018.
3. 3 Batasan Masalah Penelitian
Batasan masalah yang diteliti dalam penelitian ini
adalah pendapat siswa praktikum di luar ruang laboratorium, pembuatan alat uji
elektrolit,
pengunaan bahan di lingkungan sekitar (bahan limbah) dan
hasil belajar siswa.
3. 4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan penelitian ini
adalah deskripsif eksperimen, dengan
beberapa tahapan.
3. 5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan dalam metode eksperimen adalah
Alat-alat :
Elektroda (karbon, paku, penjepit kertas, tembaga), kabel, lampu, gelas
aqua, isolasi
Bahan-bahan : air laut, air sungai, air sumur, air PDAM,
aqua, garam dapur, asam sitrat, gula, cuka, alkohol, urea, soda kue, deterjen,
air jeruk, air belimbing
3. 6 Prosedur Kerja
3. 6. 1
Gambaran umum prosedur penelitian
A. Mendesain Elektrolit Tester, gambar desain A dan
desain B tertulis di LKS
B.
Membuat Elektrolit
Tester dan melakukan Praktikum, dengan cara kerja tertulis di LKS
C.
Menyebarkan angket
1 2
3 4 5 6
Gambar 1. (1) Alat dan bahan elektrolit tester, (2) Bahan yang diuji, (3) Elektrolit tester desain A, (4) Cara penggunaan elektrolit
tester desain A, (5) Elektrolit tester desain B, (6) Cara penggunaan elektrolit tester desain B
3. 6. 2 Rincian prosedur penelitian
Secara rinci pelaksanaan meliputi langkah-langkah:
a. Tahap perencanaan (Persiapan)
1.
Menentukan
kelas penelitian
2.
Menetapkan
waktu memulainya penelitian.
3.
Menetapkan
materi pelajaran.
4.
Membuat rencana pembelajaran, berisi materi yang di eksperimenkan, LKS, Kisi-kisi soal, Soal dan Rubrik
pengskoran lampiran 5
b. Tahap pelaksanaan (Implementasi)
1.
Melaksanakan
eksperimen.
2.
Menyebarkan
angket tanggapan siswa tentang
Melaksanakan tes tulis dan tes formatif
c. Tahap observasi (pemantauan) dan evaluasi
Pelaksanaan observasi
dilakukan oleh guru, dengan menggunakan alat bantu berupa lembar angket atau kuesioner
tanggapan siswa tentang hasil
eksperimen dan
pelaksanaan eksperimen, nilai pembuatan laporan, test lisan dan test tulis
atau test formatif .
3. 7
Analisis Data
Data yang
didapat dianalisis dengan rumus : secara
grafik dengan microsoft exel
3. 8 Indikator Keberhasilan
Kriteria keberhasilan adalah apabila :
ü lebih dari 70 % siswa memperoleh nilai
≥ 77 baik nilai kognitif maupun psikomotor
ü lebih 70 % siswa toleransi praktikum di luar laboratorium
ü siswa dapat memilih sendiri desain
elektroda yang akan dibuat
3. 9 Jadwal Kegiatan Penelitian
Adapun jadwal kegiatan penelitian dapat di lihat di
tabel 1
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4. 1 Hasil Data Pengamatan
Setelah dilakukan pengamatan dari
tahap pengambilan data didapat :
1.
Jumlah
Siswa yang mengisi mengisi angket tampak pada tabel 2
Tabel
2. Prosentase siswa yang mengisi kuessioner dan praktikum
No
|
Kelas
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Total
|
Jumlah Siswa Yang Mengikuti
|
Keterangan
|
|
Eksperimen
|
Kuessioner
|
||||||
1
|
X-IPA1
|
10
|
18
|
28
|
28
|
27
|
satu
siswa sakit
|
2
|
X-IPA2
|
9
|
17
|
26
|
26
|
26
|
lima siswa
dispensasi
|
3
|
X-IPA3
|
9
|
18
|
27
|
27
|
22
|
|
4
|
X-IPA4
|
9
|
17
|
26
|
26
|
22
|
empat siswa dispensasi
|
5
|
X-IPA5
|
9
|
17
|
26
|
26
|
26
|
|
Total
|
46
|
87
|
133
|
133
|
123
|
||
2.
Format
lembar pertanyaan lampiran 6 dan contoh scan jawaban kuesioner
lampiran 7, rekap jawaban lampiran 8, rekap data eksperimen di luar
laboratorium, mengusahakan
alat dan bahan di luar laboratorium lampiran 9. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
3. Rekap Jawaban Lembar Eksperimen Luar Laboratorium
No
|
Kelas
|
Prosentase Senang
praktikum di ruang laboratorium
|
Prosentase Senang
praktikum di luar ruang laboratorium
|
||
Senang
|
Tidak Senang
|
Senang
|
Tidak Senang
|
||
1
|
X-IPA1
|
93%
|
7%
|
78%
|
22%
|
2
|
X-IPA2
|
96%
|
4%
|
81%
|
19%
|
3
|
X-IPA3
|
100%
|
0%
|
73%
|
27%
|
4
|
X-IPA4
|
95%
|
5%
|
50%
|
50%
|
5
|
X-IPA5
|
88%
|
12%
|
85%
|
15%
|
Total
|
94%
|
6%
|
74%
|
26%
|
|
Tabel 4. Prosentrase Mengusahakan Bahan
dan Membuat Alat Praktikum
No
|
Kelas
|
Prosentase
Senang bahan yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang
laboratorium
|
Prosentase
Senang mengusahakan bahan praktikum sendiri
|
Prosentase
Mudah mengusaha-kan bahan praktikum
|
Prosentase
Senang alat yang akan digunakan untuk praktikum berasal dari ruang
laboratorium
|
Prosentase
Senang membuat alat praktikum sendiri
|
Prosentase
Mudah membuat alat praktikum
|
||||||
Senang
|
Tidak
Senang
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Sulit
|
Mudah
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Senang
|
Tidak
Senang
|
Sulit
|
Mudah
|
||
1
|
X-IPA1
|
96%
|
4%
|
89%
|
11%
|
22%
|
78%
|
96%
|
4%
|
78%
|
22%
|
37%
|
63%
|
2
|
X-IPA2
|
85%
|
15%
|
69%
|
31%
|
58%
|
42%
|
100%
|
0%
|
73%
|
27%
|
58%
|
42%
|
3
|
X-IPA3
|
95%
|
5%
|
82%
|
18%
|
45%
|
55%
|
100%
|
0%
|
32%
|
68%
|
73%
|
27%
|
4
|
X-IPA4
|
100%
|
0%
|
59%
|
41%
|
95%
|
5%
|
100%
|
0%
|
64%
|
36%
|
82%
|
18%
|
5
|
X-IPA5
|
77%
|
23%
|
73%
|
27%
|
19%
|
81%
|
92%
|
8%
|
38%
|
62%
|
50%
|
50%
|
Total
|
90%
|
10%
|
75%
|
25%
|
46%
|
54%
|
98%
|
2%
|
58%
|
42%
|
59%
|
41%
|
|
3.
Format
lembar pertanyaan lampiran 10, contoh scan jawaban kuesioner desain alat lampiran 11 dan rekapan jawaban desain
alat lampiran 12. Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
5. Prosentase Desain Alat
No
|
PERNYATAAN
|
PROSENTASE JAWABAN UNTUK KELAS
|
|||||||||||
X-IPA1
|
X-IPA2
|
X-IPA3
|
X-IPA4
|
X-IPA5
|
TOTAL
|
||||||||
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
||
1
|
Desain paling mudah dibuat
|
48%
|
52%
|
92%
|
8%
|
59%
|
41%
|
36%
|
64%
|
42%
|
58%
|
56%
|
44%
|
2
|
Desain elektrodanya kemungkinan besar
tidak bersentuhan selama percobaaan
|
33%
|
67%
|
27%
|
73%
|
0%
|
100%
|
64%
|
36%
|
42%
|
58%
|
33%
|
67%
|
3
|
Desain
yang lebih cepat untuk mendapatkan data pengamatan
|
26%
|
74%
|
38%
|
62%
|
23%
|
77%
|
14%
|
86%
|
15%
|
85%
|
24%
|
76%
|
4
|
Desain yang lebih mudah mengamati hasil
percobaan
|
37%
|
63%
|
38%
|
62%
|
23%
|
77%
|
41%
|
59%
|
38%
|
62%
|
36%
|
64%
|
4.
Format
lembar pertanyaan lampiran 13, contoh scan jawaban kuesioner data pengamatan eksperimen lampiran
14 dan rekapan jawaban tingkat kevalidan lampiran 15 . Data yang di peroleh sebagai berikut.
Tabel
6. Prosentase Tingkat Kevalidan Desain Alat
No
|
Kriteria
|
DESAIN A
|
DESAIN B
|
DESAIN A
|
DESAIN B
|
|||
X-IPA1
|
X-IPA2
|
X-IPA3
|
X-IPA4
|
X-IPA5
|
||||
1
|
Valid
|
79%
|
83%
|
94%
|
100%
|
98%
|
81%
|
97%
|
2
|
Tidak Valid
|
21%
|
17%
|
6%
|
0%
|
2%
|
19%
|
3%
|
5.
Analisis
hasil ecaluasi belajar tes lisan lampiran 16, perbaikan lampiran 17, scan penilaian hasil lampiran 18, analisis evaluasi belajar siswa tes tulis lampiran 19,
perbaikan lampiran 20 dan scan contoh hasil ulangan lampiran 21. Data diperoleh
Tabel
7. Prosentase Ketuntasan Belajar dan Daya Serap Siswa
No
|
Kelas
|
Ketuntasan
Belajar
|
Daya
Serap Siswa
|
||||||
Tes Lisan
|
Perbaikan Tes Lisan
|
Tes Tulis
|
Perbaikan Tes Tulis
|
Tes Lisan
|
Perbaikan Tes Lisan
|
Tes Tulis
|
Perbaikan Tes Tulis
|
||
1
|
X-IPA1
|
71%
|
100%
|
54%
|
100%
|
83%
|
94%
|
78%
|
90%
|
2
|
X-IPA2
|
65%
|
100%
|
27%
|
100%
|
81%
|
87%
|
64%
|
82%
|
3
|
X-IPA3
|
85%
|
100%
|
44%
|
100%
|
95%
|
91%
|
91%
|
89%
|
4
|
X-IPA4
|
70%
|
100%
|
65%
|
100%
|
81%
|
92%
|
80%
|
92%
|
5
|
X-IPA5
|
69 %
|
100%
|
65%
|
100%
|
83%
|
91%
|
80%
|
87%
|
4.2 Pembahasan
Semua siswa mengikuti praktikum. Prosentase jumlah
siswa yang mengisi angket paling sedikit
81 % kelas X-IPA3, jumlah tersebut masih dianggab baik. Prosentase jumlah siswa
senang praktikum di ruang laboratorium terkecil 81% kelas X-IPA3, terbesar 100
% kelas X-IPA2 dan X-IPA5. Total 94 % siswa senang praktikum di ruang laboratorium. Sedangkan siswa senang praktikum di luar ruang laboratorium terkecil 50 %
kelas X-IPA4, terbesar 85 % kelas
X-IPA5. Total 74 % siswa senang praktikum di luar ruang laboratorium. Artinya hampir semua siswa
lebih suka praktikum di laboratorium dibandingkan di luar laboratorium, tetapi
mereka masih mentoleransi jika harus praktikum di luar laboratorium. Prosentase
jumlah siswa senang bahan praktikum dari ruang laboratorium terkecil 77 % kelas X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA4. Total 90 % siswa senang bahan praktikum dari
ruang laboratorium. Sedangkan siswa
senang bahan praktikum
dari luar ruang laboratorium
terkecil
59 % kelas X-IPA4, terbesar 89 %
kelas X-IPA1. Total 75 % siswa senang bahan
praktikum dari luar ruang
laboratorium. Tingkat kesulitan mendapatkan bahan terkecil 19 %
kelas X-IPA5, terbesar 95 % kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan mendapatkan
bahan. Artinya sebagian besar siswa lebih suka bahan praktikum berasal dari
ruang laboratorium dibandingkan di luar ruang laboratorium, tetapi mereka mentoleransi
jika disuruh membawa bahan dari luar dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan
sulit, kelas X-IPA5 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.
Prosentase jumlah siswa senang alat praktikum dari
ruang laboratorium terkecil 92 % kelas
X-IPA5, terbesar 100 % kelas X-IPA2, X-IPA3, X-IPA4. Total 98 % siswa senang
alat praktikum dari ruang laboratorium.
Sedangkan siswa senang membuat alat
praktikum terkecil 32 %
kelas X-IPA3, terbesar 78 % kelas X-IPA1. Total 58 % siswa senang
membuat alat praktikum. Tingkat
kesulitan membuat alat praktikum terkecil 37 % kelas X-IPA1, terbesar 82 %
kelas X-IPA4. Total 46 % kesulitan membuat alat praktikum. Artinya sebagian
besar siswa lebih suka alat praktikum berasal dari ruang laboratorium
dibandingkan membuat alat praktikum, tetapi mereka terpaksa toleransi jika
disuruh membuat alat praktikum dengan tingkat kesulitan di kelas X-IPA4 menyatakan
sulit, kelas X-IPA1 menyatakan mudah, secara keseluruhan sedang.
Prosentase jumlah siswa yang menyatakan 92 % desain A
lebih mudah kelas X-IPA2, 64 % desain B lebih mudah kelas X-IPA4, total 56 %
jumlah siswa menyatakan desain A lebih mudah dibuat dibandingkan desain B,
artinya baik desain A dan B sama-sama bisa dibuat. Prosentase jumlah siswa yang
menyatakan elektroda yang kemungkinan besar tidak
bersentuhan 67 %
desain A kelas
X-IPA4, 100 % desain B kelas
X-IPA3, total 67 % desain B dibanding
desain A. Prosentase jumlah siswa yang lebih cepat mendapat data yaitu 38 %
desain A kelas X-IPA2, 86 % desain B kelas X-IPA4, total 76 % desain B
dibandingkan A. Prosentase jumlah yang menyatakan lebih mudah mengamati hasil
percobaan yaitu 41 % desain A kelas X-IPA4, 77 % desain B kelas X-IPA3, total
64 % desain B lebih baik dari desain A. Prosentase jumlah siswa yang menyatakan
valid data untuk desain A jumlah terkecil 79 % kelas X-IPA1, terbesar kelas X-IPA2
83 % dan desain B jumlah terkecil 94 % kelas X-IPA4, terbesar 100 % kelas
X-IPA4, total 97 % desain B lebih valid daripada desain A. Artinya secara
keseluruhan desain B lebih baik digunakan dibandingkan desain A, walaupun
pembuatannya sedikit lebih rumit tetapi lebih efesien, efektif dalam proses
pengamatan dan kesalahan yang terjadi akibat elektroda saling bersentuhan lebih
minim lagi.
Baik desain A dan B, siswa bisa memahami cara
pembuatannya dan penggunaannya, terjadinya kesalahan dalam penggunaan akibat
siswa kurang kompak saat praktikum, elektroda bersentuhan, lalai mengamati
elektroda, focus ke lampu, lalai mencuci
elektroda, di akhir percobaan siswa sudah menyadari kesalahannya dengan
menuliskan di laporan praktikum siswa. Elektrolit
tester yang dibuat masih cukup layak dipakai sebagai alat uji elektrolit.
Prosentase ketuntasan belajar siswa untuk tes lisan terkecil 65 % kelas
X-IPA2, terbesar 85 % kelas X-IPA3. Prosentase ketuntasan belajar siswa
untuk tes tulis terkecil 27 % kelas X-IPA2,
terbesar 65 % X-IPA4 dan X-IPA5. Diadakan program perbaikan diperoleh
100 % prosentase ketuntasan belakar siswa. Prosentase data serap siswa untuk tes lisan terkecil
81 % kelas X-IPA2 dan X-IPA4,
terbesar 95 % kelas X-IPA3, setelah program perbaikan daya serap siswa kelas
X-IPA2 meningkat 87 % dan kelas X-IPA4 daya serap siswa 92 %, daya serap siswa
tertinggi kelas X-IPA1 yaitu 94 %. Prosentase daya serap siswa untuk tes tulis
terkecil 64 % kelas X-IPA2, setelah perbaikan
meningkat 82 % dan daya serap
siswa tertinggi 91 %
kelas X-IPA3 setelah
perbaikan meningkat 92 %,
rata-rata IQ 98,68, rata-rata bawah 58 % artinya siswa kelas X-IPA dalam belajar masih
diperlukan program perbaikan, bagi siswa yang belum tuntas dengan jalan
mengulang materi pelajaran yang sama dan metode memodivikasi antara metode
eksperimen, inquiry, discovery, latihan dan praktek sehingga terjadi peningkatan hasil belajar siswa, ini
bisa dibuktikan setelah program perbaikan ketuntasan belajar 100 %.
(1)
(2) (3) (4)
Gambar 2. Suasana
praktikum memakai elektrolit tester
desain A dan B di dalam dan luar ruang laboratorium. (1) bahan yang diuji dan
siswa praktek di laboratorium, (2) desain A (3) desain B (4) praktek di luar
laboratorium
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan
Dari data penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan
bahwa.
Siswa kelas
X-IPA lebih senang praktikum di dalam laboratorium dibandingkan di luar
laboratorium, toleransi siswa praktikum di luar laboratorium jika ruang
laboratorium dipakai kelas lain tergolong sedang. Siswa memahami praktikum larutan elektrolit dapat dilakukan
di luar laboratorium.
Siswa kelas
X-IPA lebih senang mengunakan alat dan bahan di dalam laboratorium dibandingkan
di luar laboratorium, siswa cukup toleransi untuk mencari bahan dan membuat elektrolit tester dengan desain A dan B.
Prosentase kevalidan desain A 81 % dan desain B 97 %. Desain yang paling baik
digunakan adalah desain B. Desain A masih layak digunakan.
Pembuatan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah pada materi larutan elektrolit
dapat dipahami oleh siswa. Siswa paham baik desain A dan B bisa digunakan
bersama, menggunakan desain B data lebih cepat teramati, kekompakan kerja tim lebih
terlihat menggunakan desain A
Rata-rata
bawah siswa kelas X-IPA lebih banyak dibandingkan rata-rata atas, hasil pembelajaran siswa yang menggunakan elektrolit tester dengan elektroda bahan
limbah terjadi peningkatan, walaupun pada awalnya
siswa belum tuntas, dengan program
perbaikan maka ketuntasan belajar siswa bisa mencapai 100 %
5. 2 Saran
Berdasarkan
simpulan diatas, maka pembuatan elektrolit tester dari bahan limbah memiliki
beberapa kelebihan dan kelemahan. Disarankan antara lain.
1.
Laboran
perlu mengembangkan alat praktikum yang lain agar pembelajaran metode
eksperimen tetap bisa berjalan
2.
Menggunakan
ruang di luar laboratorium, jika laboratorium sudah digunakan kelas yang
berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M. Pd, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV.
Wacana Prima
Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M. Pd, 2007, Psikologi Pembelajaran, Bandung : CV.
Wacana Prima
Dr. Munawaroh, M. Kes, 2012, Panduan Memahami Metodologi Penelitian,
Malang : Intimedia
Prof. Dr. Sugiyono, 2013, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung : CV. Alfabeta
Prof. Dr. Sugiyono, 2014, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung : CV. Alfabeta
Dra. Sumiati dan Asra, M. Ed, 2007, Metode Pembelajaran, Bandung : CV.
Wacana Prima
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M. Pd, 2013, Penelitian Pendidikan (Jenis, Metode dan
Prosedur), Jakarta : Prenadamedia Group
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M. Pd, 2013, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan, Jakarta : Prenadamedia Group
Tidak ada komentar:
Posting Komentar